OVERRIDING PROTOCOL [ON-GOING]

OVERRIDING PROTOCOL [ON-GOING]

  • WpView
    Dibaca 147
  • WpVote
    Vote 33
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Okt 1, 2026
WpInfo
Fiksi
Aksi dan Thriller
Perang dan Militer
Fiksi Ilmiah
Pahlawan Super
Di balik sifat jenakanya, ada seorang penguasa taktik yang jenius dan tidak bisa disentuh oleh siapapun.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#6
snsd
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Bukan Babysitter, Bung
  • AVISENA
  • Bukan Sembarang Figuran
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • GAIRAH MENANTU BERSERAGAM
  • THE DUCHESS OF LANCASTER : A Tale of Two Lives (END/COMPLETED)
  • Jangan Halangi Pensiun Diniku, Mas Aktor! (Hiatus)
  • XAVIER : The Silent Guardian
  • Stuck Between The Pags

"Aku ingin kau menjaga putraku... dan teman-temannya." Naraska mengernyit. Kata-kata itu terasa janggal di telinganya. Di seberang meja kerja, Rajendra C. Lysander duduk tegak, menatapnya lurus sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan kayu. "Aku tahu ini terdengar aneh," suara Rajendra berat, sarat kelelahan. Di tangannya, selembar kertas bisnis terjepit tanpa benar-benar ia baca. "Tapi aku akan pergi selama tiga bulan untuk perjalanan bisnis. Jadi aku membutuhkan bantuanmu." Naraska menarik napas. "Aku tidak keberatan, Paman. Tapi... mengapa harus aku? Mereka sudah mahasiswa. Bukankah mereka bisa menjaga diri mereka sendiri?" Rajendra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Tatapannya beralih ke luar jendela, seolah mencari jawaban pada langit senja di balik kaca. "Putraku dan teman-temannya telah tinggal di rumahku selama 5 bulan," ucapnya pelan. "Mereka tengah bersiap untuk mengikuti pertandingan Battle of the Bosses. Karena mereka meminta cuti, jadwal belajar mereka bersama pengajarnya semakin padat." Naraska menautkan alis. "Kalau begitu, mengapa aku perlu mengawasi mereka? Bukankah guru itu cukup?" Mata Rajendra kembali beralih padanya, kali ini tajam dan penuh arti. "Itulah," katanya singkat. "Yang ku ingin kau awasi"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan