Gabriella tidak pernah benar-benar hidup - dia hanya bertahan.
Sejak kecil, dia belajar bahwa cinta harus dibayar dengan luka. Rumah yang seharusnya jadi tempat pulang justru menjadi reruntuhan pertama dalam hidupnya. Kepercayaan yang dihancurkan, doa-doa yang seolah tidak pernah sampai, dan hubungan yang datang hanya untuk mengambil sisa-sisa dirinya yang sudah rapuh. Di usia 24 tahun, dia berdiri di tepi pantai yang sama setiap malam, bukan untuk menikmati sunset, tapi untuk bertanya, apakah hidupnya masih layak untuk dilanjutkan.
Jaket merah yang selalu ia pakai adalah satu-satunya hal yang masih terasa hangat. Di baliknya, ia menyembunyikan semua jejak kehancuran yang tidak pernah diceritakan pada siapa pun.
Sampai suatu malam, di bawah cahaya bulan yang pucat, ia tidak lagi berdoa meminta hidupnya diperbaiki, ia hanya berbisik, "Tuhan, kalau Engkau ada, temani aku di sini."
Dan untuk pertama kalinya, keheningan tidak terasa menakutkan.
PA†H bukan tentang seorang wanita yang tiba-tiba sembuh. Ini adalah perjalanan tentang bagaimana Tuhan tidak selalu menarik kita keluar dari badai dengan cepat, tapi Dia duduk bersama kita di tengah badai itu. Tentang bagaimana iman bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tapi tentang menemukan salib kecil di tengah huruf-huruf hidup yang berantakan, di mana yang patah diubah menjadi jalan.
Dari kehancuran menuju kedamaian. Dari mencari cinta manusia menuju dipeluk oleh kasih yang tidak pernah pergi.
"Kadang Tuhan membiarkan jalan kita hancur, supaya kita akhirnya menemukan jalan pulang yang sebenarnya, kepada-Nya."
All Rights Reserved