"Di dunia yang tidak mengenal fajar, darahmu adalah candu. Dan detak jantungmu adalah kutukan."
Sunny Aurelius Pembroke hanya pemuda manis biasa yang agak penakut. Namun, sebuah rasa ingin tahu yang polos mengubah takdirnya saat dia menemukan sepasang cincin permata ungu misterius di laci rahasia orang tuanya.
Begitu cincin itu terpasang di jarinya, pantulan matanya di cermin mendadak berubah menjadi merah menyala, dan sekelebat kilatan cahaya menariknya paksa ke sebuah dimensi asing-The Evernight.
Dunia tanpa matahari. Dunia semi-industrial gotik yang megah namun mencekam, di mana uap mengepul dari pabrik-pabrik ekstraksi darah, dan ras manusia hanyalah kasta terendah yang dipanen bagai ternak.
Di tengah hutan berkabut yang mematikan, Sunny yang terluka ditemukan oleh Simon Lysander Valois. Simon adalah pewaris tunggal dinasti bisnis darah terbesar di dunia itu, sosok berambut perak yang sedingin es, kejam, dan ditakuti.
Namun, aroma darah Sunny terlalu memikat, murni, dan manis luar biasa. Mengalirkan kehangatan supranatural yang mampu memberikan kenyamanan pada sang pangeran es.
Sunny yang awalnya stres perlahan menyadari bahwa monster yang mengurungnya tidak sekejam desas-desus di luar. Hingga suatu malam, saat taring Simon menembus lehernya, Sunny tidak lagi gemetar.
Dia justru menatap manik mata merah Simon, mengelus rahang dingin itu dengan berani, dan bertanya polos, "Mengapa kau selalu menghisap darahku?"
Pertanyaan manis yang resmi meruntuhkan dinding es di hati Simon.
Namun, badai politik besar mulai membayangi. Orang tua Simon yang kejam menuntut agar manusia istimewa itu dikuras habis darahnya demi bisnis keluarga. Di saat yang sama, musuh bebuyutan sekaligus mantan sahabat Simon, mulai bergerak dari kegelapan.
Saat Perang Darah mulai pecah, Simon harus memilih mempertahankan bisnis dan takdir rasnya yang kejam, atau mengkhianati seluruh dunianya demi melindungi satu-satunya matahari yang dia miliki di kegelapan abadi.
Todos os Direitos Reservados