Alena tidak pernah menyangka takdir akan membawanya menikah dengan seorang pria asal Tiongkok.
Zhao Jingchen datang dengan ketulusan. Ia bahkan memutuskan menjadi mualaf atas keinginannya sendiri sebelum melamar Alena.
Tanpa paksaan, tanpa tuntutan, mereka membangun rumah tangga yang dipenuhi cinta.
Selama pernikahan, Jingchen tidak pernah menuntut Alena untuk segera memberinya keturunan. Bahkan kedua orang tua Jingchen pun tidak pernah memaksakan hal tersebut, meskipun Jingchen adalah anak satu-satunya.
Hingga di tahun pertama pernikahan mereka, Tuhan akhirnya mempercayakan seorang anak kepada keduanya.
Setahun setelah kelahiran putra mereka, Alena, Jingchen, dan anak mereka pergi berlibur ke Indonesia selama satu bulan. Namun, baru satu minggu berada di sana, Jingchen tiba-tiba mendapat kabar bahwa ia harus kembali ke Tiongkok untuk bekerja.
Alena kecewa. Ia bahkan marah karena sebelumnya Jingchen berjanji akan menemaninya selama satu bulan penuh.
Meski berat hati, Jingchen tetap pergi. Bahkan Sebelum berangkat, jingchen memberikan apa saja yang bisa membuat istrinya tidak marah dan agar istrinya bisa pergi bersama teman-temannya, menikmati waktu di Indonesia, dan melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu.
Namun, Alena tidak pernah menyangka bahwa kepergian Jingchen justru menjadi awal dari terbongkarnya masa lalu yang selama bertahun-tahun ia kubur.
Pertemuannya dengan teman-teman masa sekolah kembali mempertemukannya dengan Joan, pria dari masa lalunya yang ternyata belum mampu melupakannya. Bahkan, mantan calon mertuanya masih menganggap Alena sebagai calon menantu yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga mereka.
Lalu, satu pertanyaan mulai muncul.
Mengapa Alena memilih Zhao Jingchen, sementara dulu ia telah bertunangan dan hampir menikah dengan Joan?
Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu hingga Alena memilih meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan baru bersama pria asal Tiongkok itu?
All Rights Reserved