Deskripsi Cerita
Cerita ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda bernama Jei, berusia 16 tahun, yang pindah dari Desa Karangmangu ke Desa Kemutug Kidul. Kehidupan barunya mempertemukan Jei dengan tradisi Ider-Ider yang dilaksanakan setiap malam 1 Asyura sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan warisan leluhur desa.
Pada awalnya, Jei memandang tradisi tersebut sebagai sesuatu yang sudah tidak relevan dengan kehidupan modern. Baginya, berjalan mengelilingi desa pada tengah malam hanyalah kebiasaan masa lalu yang tidak memiliki manfaat nyata. Namun, pandangannya mulai berubah setelah ia bertemu Mbah Karsa, seorang sesepuh desa yang berusaha menjelaskan bahwa Ider-Ider bukan sekadar ritual, melainkan simbol persatuan, penghormatan terhadap leluhur, dan tanggung jawab masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Keraguan Jei semakin besar ketika Reno, seorang pemuda yang menentang tradisi tersebut, mulai memengaruhinya dengan mempertanyakan tujuan Ider-Ider. Keadaan menjadi semakin rumit ketika sejumlah warga jatuh sakit setelah mengikuti ritual. Reno memanfaatkan situasi tersebut untuk menyebarkan ketakutan dan mendorong warga agar menghentikan tradisi.
Mbah Karsa kemudian meminta Jei mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bersama Reza, Jei menemukan bukti bahwa kejadian tersebut bukanlah akibat dari tradisi, melainkan sebuah kesengajaan. Konflik kembali memuncak ketika kambing yang akan digunakan dalam rangkaian tradisi Ider-Ider pada 3 Asyura menghilang. Jei dan Reza akhirnya menemukan kambing tersebut di gudang milik Reno.
Dari berbagai peristiwa tersebut, Jei mulai memahami bahwa mempertahankan sebuah tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman. Tradisi dapat menjadi identitas yang menyatukan masyarakat selama dijalankan dengan kesadaran dan kebersamaan.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang