Dari luar, hidup Raka terlihat biasa saja. Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya, bersekolah, mendapatkan nilai, berteman, hingga akhirnya menjadi seorang sarjana. Namun tidak ada yang tahu bahwa sejak kecil, Raka telah hidup dalam mode bertahan.
Ia belajar bahwa menjadi anak yang baik berarti tidak boleh mengecewakan siapa pun. Harus pintar, harus berhasil, harus memilih pertemanan yang tepat, pekerjaan yang tepat, dan menjalani hidup sesuai dengan apa yang dianggap benar oleh keluarganya. Perlahan, keinginannya sendiri menjadi sesuatu yang harus ia sembunyikan.
Di tengah semua tuntutan itu, Raka menemukan satu hal yang ia percaya dapat memberinya kebebasan: uang.
Terinspirasi dari sebuah film, ia menetapkan target yang terdengar mustahil bagi banyak orang: Rp10.000.000.000. Ia mulai menabung, mencari penghasilan, dan mencoba berbagai kesempatan. Baginya, uang bukan sekadar angka. Uang adalah pilihan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Namun setelah lulus kuliah, Raka kembali berhadapan dengan batasan yang selama ini mengikutinya. Pekerjaan yang ingin ia pilih dipertanyakan, sementara pilihan yang justru membuatnya bahagia berada jauh dari jurusannya dan tidak selalu menghasilkan banyak uang.
Di tengah kelelahan, kehilangan tempat untuk bercerita, dan tekanan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan harapan orang lain, Raka mulai mempertanyakan satu hal:
Apakah selama ini ia benar-benar mengejar sepuluh miliar, atau sebenarnya ia sedang mengejar kebebasan?
Karena mungkin, yang paling mahal bukanlah sepuluh miliar.
Melainkan keberanian untuk memilih hidupnya sendiri.
Tüm hakları saklıdır