Di bawah kemegahan Keraton Galuh, tersembunyi rahasia kelam yang meruntuhkan tatanan moral dan memicu perang saudara. Skandal perselingkuhan (smarakarya) antara Putra Mahkota Rahyang Mandiminyak dan kakak iparnya, Pwahaci Rababu, melahirkan seorang anak tidak sah bernama Sana yang terpaksa disembunyikan demi menutupi aib istana. Untuk meredam gonjang-ganjing politik dan membendung desas-desus skandal, Mandiminyak dinikahkan dengan Putri Dewi Parwati dari Kalingga yang kemudian melahirkan Putri Sannaha. Namun, Dewi Parwati segera menyadari bahwa perikatan agung tersebut hanyalah tameng dingin untuk memulihkan nama baik keraton.
Tahun-tahun berlalu, Sana dewasa muncul di keraton untuk menuntut hak darah dagingnya. Kedatangannya menyulut emosi Sannaha yang kecewa atas pengkhianatan ayahnya. Di tengah retaknya fondasi keluarga, persimpangan takdir membawa Sana jatuh hati pada adik tirinya, Sannaha-sebuah perasaan tabu yang berkembang menjadi obsesi gelap tak terkendali. Saat insiden di kaputren menggemparkan istana, dewan kerajaan mengambil tindakan pragmatis dengan memaksakan pernikahan politik antara Sana dan Sannaha guna memperkuat legitimasi takhta.
Pernikahan itu menjadi neraka beracun, semakin Sannaha membenci Sana, Sana justru semakin tergila-gila padanya. Menyaksikan keretakan moral ini, Purbasora-putra sah Sempakwaja dan Pwahaci Rababu-menggunakan propaganda pembersihan takhta dari anak skandal untuk menggalang kekuatan dan melancarkan kudeta berdarah pada tahun 716 M. Terusir dari keraton, Sana dan Sannaha melarikan diri mengungsi ke wilayah Gunung Merapi. Di sana, dalam asuhan duka dan benci, putra mereka, Sanjaya, tumbuh memikul sumpah untuk merebut kembali Galuh dan mengakhiri lingkaran dosa para leluhurnya.
All Rights Reserved