Indah selalu percaya bahwa untuk mendapatkan tempat di dunia, ia harus menjadi sempurna.
Di sebuah sekolah elit yang dipenuhi siswa berprestasi, tuntutan tinggi, dan orang-orang yang terbiasa mengejar pencapaian, Indah menemukan dirinya semakin tenggelam dalam keinginan untuk selalu melakukan yang terbaik. Sejak kecil, ia terbiasa menjadi anak yang diharapkan berhasil. Maka ketika sebuah kesempatan membawanya menjadi pembina OSIS, ia menerimanya meski sebenarnya ia tidak pernah merasa cukup siap.
Di sanalah ia mengenal Ridwan.
Awalnya, Ridwan hanyalah seorang rekan kerja yang menarik perhatiannya karena satu hal sederhana: wajahnya yang masih basah oleh wudhu ketika keluar dari masjid. Namun pertemuan-pertemuan kecil yang awalnya tidak berarti perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Mereka menjadi partner dalam berbagai pekerjaan, menghadapi masalah siswa, berbagi cerita di sela kesibukan, saling membantu, dan tanpa sadar menjadi tempat yang nyaman untuk pulang setelah hari-hari yang melelahkan.
Namun Indah tidak tahu bahwa di balik sikap Ridwan yang tegas dan selalu terlihat mampu mengatasi semuanya, tersimpan luka yang membuatnya pernah merasa sendirian. Dan Ridwan pun tidak tahu bahwa di balik senyum dan kesibukan Indah, ada seorang perempuan yang sejak lama lelah berusaha membuktikan bahwa dirinya cukup baik.
Ketika pekerjaan, tekanan, dan luka lama akhirnya membuat Indah tidak lagi mampu berpura-pura baik-baik saja, hubungan mereka pun diuji oleh sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perasaan.
Ridwan harus belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti menyelamatkannya dari semua luka.
Indah harus belajar bahwa dicintai tidak selalu harus dibayar dengan kesempurnaan.
Dan keduanya harus menemukan jawaban atas satu pertanyaan yang selama ini mereka hindari:
Apakah seseorang bisa benar-benar menjadi rumah bagi orang lain, ketika dirinya sendiri masih belajar pulang kepada dirinya sendiri?
Todos los derechos reservados