Nama: Jovan Chao.
Status: Buronan paling dicari di kota.
Catatan: Jenius, berbahaya, dan memiliki satu kebiasaan buruk. Mengirim buket bunga ke kantor polisi setiap kali berhasil kabur.
Nama: Morgan Edward.
Status: Detektif.
Catatan: Rapi, disiplin, dan memiliki satu kelemahan fatal. Menyimpan setiap buket bunga dari Jovan Chao di mejanya. Dengan vas.
Mereka bertemu pertama kali di TKP perampokan galeri. Jovan berdiri di tengah lukisan yang dicuri, mengenakan jas mahal, dan tersenyum ketika borgol hampir mengunci pergelangan tangannya. "Detektif Edward," katanya. "Akhirnya kita tatap muka. Saya sudah membaca semua berkas Anda. Tulisan tangannya rapi sekali."
Morgan tidak menjawab. Ia hanya memasang borgol itu. Tapi malamnya, ia tidak bisa tidur. Bukan karena gagal menangkap. Tapi karena Jovan sempat berbisik, "Sampai jumpa di kasus berikutnya, Morgan."
Sejak itu, ini bukan lagi tentang hukum dan kejahatan. Ini tentang dua orang keras kepala yang terlalu sering bertemu di tempat yang salah, dengan alasan yang salah.
Jovan terobsesi. Ia menghafal jadwal patroli Morgan, menu kopi favorit Morgan, bahkan jenis pulpen yang Morgan pakai untuk menulis laporan. Ia mencuri bukan karena butuh uang. Ia mencuri karena itu satu-satunya cara agar namanya disebut Morgan dengan nada kesal di rapat.
Dan Morgan? Morgan jatuh cinta. Diam-diam. Menyebalkan. Ia membenci setiap kejahatan Jovan, tapi juga membenci dirinya sendiri karena hafal betul cara Jovan tertawa ketika berhasil lolos. Ia bersumpah akan menangkapnya. Tapi di setiap akhir laporan, ia selalu menulis satu kalimat tambahan yang tidak pernah ia kirim: _hati-hati di jalan_.
Ini kisah tentang seorang penjahat yang mengejar perhatian, dan seorang polisi yang mengejar penjahat itu.
Tentang surat ancaman yang diselipkan cokelat. Tentang interogasi yang berakhir dengan saling menatap terlalu lama.
Tentang hukum yang harus ditegakkan. Dan tentang hati yang sudah terlanjur melanggar pasalnya sendiri.
Todos los derechos reservados