Bukan #ResepDokter
~ Salsabila Ramadhana
Katanya, kalau sakit pergi ke dokter.
Kalau demam, cari obat.
Kalau luka, beri perawatan.
Tapi bagaimana kalau yang sakit bukan tubuh?
Bagaimana kalau yang sesak bukan hanya napas, tetapi juga hati?
Bagaimana kalau yang perlu disembuhkan bukan luka yang terlihat, melainkan bagian dari diri yang diam-diam sudah terlalu lama lelah?
Bukan #ResepDokter bukan buku tentang mencari obat untuk segala masalah.
Ini adalah catatan seorang perempuan yang pernah mencoba memahami hidup melalui banyak "diagnosis": kehilangan, kesepian, patah hati, kecemasan, rasa tidak cukup, dan hari-hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa seperti sebuah pencapaian.
Di antara istilah medis, denyut nadi, stetoskop, dan ruang-ruang yang identik dengan kesembuhan, ia justru menemukan satu hal:
**tidak semua luka membutuhkan resep.**
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang membutuhkan air mata.
Ada yang membutuhkan keberanian untuk melepaskan.
Ada yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan tanpa menghakimi.
Dan ada yang akhirnya hanya bisa dibawa dalam doa.
Buku ini adalah perjalanan dari **"Apa yang salah denganku?"** menuju **"Aku tidak harus selalu baik-baik saja untuk tetap berharga."**
Tentang belajar berdamai dengan tubuh.
Tentang berhenti mengejar seseorang yang tidak lagi memilih tinggal.
Tentang kehilangan tanpa kehilangan diri sendiri.
Tentang kesepian yang ternyata bisa menjadi ruang untuk bertumbuh.
Tentang menjadi perempuan yang perlahan belajar berkata:
**"Aku tidak sedang mencari seseorang untuk menyelamatkanku. Aku sedang belajar menyelamatkan diriku sendiri."**
Karena mungkin, pada akhirnya, kesembuhan bukan tentang menemukan resep yang tepat.
Melainkan tentang menemukan jalan untuk **pulang kepada diri sendiri-dan kepada Allah.**
**Ini bukan #ResepDokter.
Ini adalah resep kehidupan yang kutulis dari luka, doa, dan denyut yang masih memilih untuk bertahan.**
All Rights Reserved