Nightmares: The night that never ended

Nightmares: The night that never ended

  • WpView
    Reads 690
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 1, 2015
WpInfo
Fiction
Horror
Libur Sekolah yang seharusnya menyenangkan berubah Drastis ketika mereka Sampai di Villa Baru Milik keluarga Antonius.. Satu........... Dua............. Tiga............ Empat......... Lima........... Siap atau tidak! Aku akan Datang!!! suara Gadis kecil yang sedang menghitung terus terdengar berulang-ulang. Serra Dan yang lainnya mulai takut dengan teror yang terus mendatangi mereka. Dion Bersikukuh Kalau semua itu bukan ulah hantu... Tapi manusia yang haus Darah.. Mereka bingung mana yang benar... Disaat mereka mencoba lari dari ketakutan... Hantu kecil itu datang dan mengajak Bermain petak umpat.. Permainan Yang membawa mereka Ke Gubuk Di tengah hutan yang penuh dengan Kerangka Manusia!! Dan yang lebih Parah.. Sang pemilik Gubuk kembali dengan Membawa Kapak yang siap Menebas siapapun!! Cover By Arsverza
All Rights Reserved
#354
scary
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Petaka Kesempurnaan
  • twenty six
  • Terjebak 2 Alam [S1 dan S2]
  • Hantu Naci Piuu! [END]
  • MALEVOLENCE
  • Kutukan Tumbal
  • Tentang dirinya [End]
  • The Blood

"Aku masih mengingat jelas bagaimana kamu tersenyum saat pesta sore itu. Tatapan mata yang begitu hangat dan ramah. Tampak teduh dan hangat seperti matahari sore." Lirih Sharen memegang dadanya sendiri. Bahkan sampai sekarang dia masih merasakan degup jantungnya yang cepat setiap mengingat sore itu. 'Dia milikku, bukan milik mu' kursi yang di duduki Sharen kembali bergerak. "Aku yang mendapatkannya" mata Sharen kembali menyalang, raut wajahnya penuh dengan emosi. 'Dia hanya mengenal ku, tidak mengenal si buruk rupa' raut tawa yang lebar dan menyeramkan membuat Sharen semakin menyalang marah. Tongkat yang menjadi pegangannya kini kembali dia lemparkan pada kursi di sebelahnya. Racun yang sebenarnya bukan bahan kimia buatan ataupun zat pertahan diri pada makhluk hidup. Melainkan cinta dan kasih sayang yang diberikan. Xr.Nyy.

More details
WpActionLinkContent Guidelines