ZENBIN HIRO

ZENBIN HIRO

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jun 29, 2015
WpInfo
Non-Fiction
Wajah oval, alis tebal, mata bulat, hidung mancung, bibir kecil, serta tahi lalat yang berada dipipi kiri, pendek dan kurus itulah Aku. Aku adalah seorang Remaja berusia 18 tahun. Aku sekolah disebuah SMA yang cukup terkenal di Jakarta. Teman-teman sering memanggilku dengan sapaan akrap Mika. Kata mereka aku itu cantik, pintar, baik, tapi pemalu. Yah memang kuakui aku itu orangnya pemalu, aku tidak mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan hari-hariku kuhabiskan dengan membaca buku di perpustakaan. Wajar saja aku mempunyai sikap itu karena aku anak tunggal. Aku juga sering menghabiskan waktuku di sebuah taman, tempat itu sangat menarik bagiku dan juga bagi orang-orang lainnya. Sore ini aku duduk di sebuah bangku panjang sambil memandang awan yang saling berkejar-kejaran. Perlahan awan itu berubah bentuk menjadi gambar sebuah hati. Semakin ku tatap awan itu semakin indah kurasa namun ada yang menusuk kehatiku. Aku tak habis pikir apa maksud dari situasi ini. Tiba-tiba aku teringat pada se
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • See You After Midnight [END]
  • SKRIPSUIT  ✔
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • My Duchess / End
  • Terjebak dalam Bee'Qu
  • Senior
  • Alca || Selesai
  • DOSEN BUCIN - (TAMAT)
  • Don't Talk About Money

[Reading List @RomansaIndonesia Oktober 2023 - Cerita Bangku Kampus] Hanya butuh waktu singkat bagi Linka Drisana untuk jatuh cinta pada Aldio Zefran Waranggana, seorang kakak tingkat dengan sejuta pesona. Bukan soal fisik belaka, melainkan diikuti pula oleh banyak hal-hal sederhana yang tak bisa Linka hiraukan begitu saja. Namun, sadar bahwa mereka "berbeda", yang dapat Linka perbuat hanyalah bersikap layaknya seorang pengagum rahasia. Setidaknya sampai Linka menginjak semester empat, di mana ia menyadari bagaimana semesta dan rencana tak terduganya mulai bermain peran. Diawali bertambahnya status Zefran sebagai sesama penghuni dalam naungan satu atap bangunan, hingga hari demi hari kisah di antara mereka terajut kian rapi selayaknya bayangan dalam angan. Semua terasa seperti mimpi hingga membuat Linka tak dapat mudah percaya, sampai keyakinan berhasil ia peroleh karena Zefran yang terus berupaya. Kendati demikian, pada akhirnya Linka tetap dihadapkan oleh fakta bahwa segala hal dalam hidup tidak melulu berjalan sesuai keinginan, serta bahagia yang sempat Linka rasakan boleh jadi memang hanya bersifat sementara. Dan, terkait dengan hal tersebut maka jalan terakhir yang dapat ditempuh hanya antara dua opsi: merelakan atau memperjuangkan? --- © January 2023 by Dinda Arula

More details
WpActionLinkContent Guidelines