Quella : Kebangkitan Sang Penyihir

Quella : Kebangkitan Sang Penyihir

  • WpView
    Reads 501
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 21, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Tepat di depan kami berdiri dengan kokohnya bangunan tua nan usang. Inilah calon rumah ke 10 kami, tepat di usiaku ke 18. Rumah yang nantinya akan menjadi salah satu bagian dari kenangan, seperti rumah-rumah kami sebelumnya. Kini mimpi buruk itu datang kembali. Sudah tiga kali sejak perjalananku kemari. Aku melihat ayah. Seolah dekat namun kenyataannya jauh. Kukira kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kota dan memilih untuk tinggal disini merupakan pilihan yang terbaik. Ternyata aku salah. Aku salah karna ini memang takdirku. "Hidupku sempurna sebelum kalian semua datang" - Kellen
All Rights Reserved
#74
mawar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Padam Nelangsa
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • [END] Blind Rainbow
  • REGATHAN [END]
  • I love you, Mas Duda
  • Your Home [COMPLETE]
  • REYRA🍁 [TERBIT]
  • Bersaing atau Bersama? Pilih Satu!
  • Pengganti  [END]
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines