Victoria Autumn Fanessa

Victoria Autumn Fanessa

  • WpView
    Reads 352
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 9, 2016
"Kau yang membuatku seperti ini.Darah tidak akan cukup membalasnya."Kataku keras. Dia telah mengambil orang yang aku sayang dan sekarang kembali memintaku menghentikannya. "Aku mohon hentikan ini. Aku berjanji tidak akan mengganggu keluargamu lagi. Tapi berjanjilah kau tidak akan menyakiti gadisku. Dia tidak tau apa-apa."Katanya memohon. "Untuk apa menghentikan ini. Kau yang memulai maka kau yang harus mengakhiri."Kataku dingin. Brukkk. Pintu di dobrak oleh seseorang yang sangat kukenal. Orang yang sudah mengisi hari-hari ku. "Hentikan ini. Aku tidak ingin gadisku membunuh orang. Gadisku perempuan manis bukan seperti ini. Jika kamu membunuh maka kamu sama seperti dia." Kata seseorang yang mendobrak pintu. "Aku tidak membunuh orang hanya membuatnya mengeluarkan darah. Mereka tidak ada yang mati. Tapi sepertinya tidak apa-apa membunuhsatu orang. "Tidak, kau tidak boleh. Jatuhkan pistol itu, aku mencintaimu, sangat. Kamu udah banyak tersakiti sekarang biarkan aku yang mengobati mu."
All Rights Reserved
#418
kebencian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LIEUTENANT RIYYADH ISKANDAR (End)
  • OBSESSIVE LOVE
  • LOVE OF THE PAST
  • SYL
  • "LOVE AGAIN"
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • True love At school

"Mau hidup ataupun mati, gue gaakan pernah cinta sama orang kayak lo. Murahan! Sudah berapa kali lo mengangkang ke lelaki diluar sana? Ga cukup mereka, sampai ngedeketin gue lagi? Lo seperti perempuan yang gaada maruah!" Kata-kata itu jelas menyakiti hati gadis dihadapannya itu. Siapa yang tidak sakit hati, penantiannya selama ini sia-sia ditambah kata-kata tajam nan menyakitkan itu terlontar dari orang yang dicintainya. "Terima kasih sudah menghina. Aku memang mengejar cinta Abang Is, tapi bukan bermaksud Abang Is bisa seenaknya berkata bagai tak punya pelajaran adab ke Aku. Terima kasih sudah membuka mata Aku, Aku janji ga bakal ganggu Abang lagi, Assalamualaikum." Mulai saat itu, hari-hari Iskandar mulai berubah. Kala mengingat ucapannya ke gadis itu, membuatkannya terjatuh ke lembah keresahan dan bersalah. Belum lagi, dirinya mendapat kabar bahwa, gadis itu memilih pindah sekolah juga pindah tempat tinggal. Iskandar, frustasi akan semua itu membuatnya memilih mengurung jiwanya menjadi seorang yang cuek dan dingin pada sekitar. "Gue, akan cari lo sampai ketemu." "Cinta itu menyakitkan, kala duka diterpa bencana kala hati sudah pun terluka."

More details
WpActionLinkContent Guidelines