Sunshine in Another Sky

Sunshine in Another Sky

  • WpView
    Reads 1,368
  • WpVote
    Votes 109
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 29, 2015
Disaat baru membuka kelopak mata pun, aku sudah tahu. Aku bukanlah orang yang pernah mengisi hatimu. Bukan orang yang pernah membuat perutmu seperti kupu-kupu yang berterbangan ketika kau melihatku, atau membuat jantungmu berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan orang yang pernah kau sayangi (lebih tepatnya). Bagaimana tidak? Kamu adalah pemeran utama di dalam setiap drama. Kamu adalah seorang penyanyi di sebuah konser tunggal. Kamu adalah orang yang selalu menjadi idola setiap orang. Memang benar jika kita pernah 'dekat'. Kita sering melakukan banyak hal bersama-sama. Tapi semua itu belum tentu membuatku menjadi orang yang selalu menghantui pikiranmu kan? Bahkan disaat semua orang mendukungku untuk dapat memenangkan hatimu, aku tahu bahwa kelak aku akan kalah. Disaat aku mengetahui seorang gadis lain yang pantas untuk bersamamu juga menyukaimu. Disaat aku harus menerima semua kebersamaan itu harus tergantikan, bahkan terhapus. Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa untukmu. Kini, aku telah melepaskanmu untuk pergi. Membiarkanmu bersinar terang, seperti cahaya sang mentari. Dan merelakanmu, 'tuk bersinar di lain hati.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Keano
  • Regrets of Love
  • Precious Love (End)
  • Remember?
  • 49 𝓓𝓪𝔂𝓼 [2𝓨𝓮𝓸𝓷] ✓
  • 𝐋𝐢𝐤𝐞 𝐀 𝐅�𝐨𝐨𝐥 [𝐓𝐖𝐈𝐂𝐄] ✓
  • One More Time (End)
  • Forced to marry (Completed)
  • Cahaya Dirimu

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines