masalalu

masalalu

  • WpView
    Reads 249
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Jun 29, 2015
Part 1 #Alipov Sekarang hidup gue hancur karna wanita yg gue cintai telah pergi tanpa alasan ,, karna itulah gue menutup rapat* hati ku untuk wanita lain karna gue ngk mw lg disakiti&ditinggal kan oleh wanita. Sekarang gue udh pindah dri jakarta ke kota jogja dimana gue membuka lembaran hidup baru dari #masalalu ku yg suram. Aku tinggal bersama kakak perempuan ku bernama kaia (alya). Dia sedang bekerja menjadi skertaris dikantor camat tempat tinggal ku&kaia. Aku terbangun dri tidur ku karna mendengar suara ketukan pintu kamar ku. "Tok..tok..tok.." "Ali cepat bangun,, hari ini loe harus ngelamar kerjaan dikantor teman gue" kata kaia berteriak dibalik pintu kamar gue. Ya, hari ini gue udh mulai untuk ngelamar kerja dikantor teman kakak gue. Karna kaia slalu marah bila gue trs*an ngelamun mikirin cewek munafik itu. "Iya kak" balas ku dengan nada serak khas bangun tidur ku. Aku bangun&langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan ku & keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sara
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Love It's You [COMPLETED]
  • Good Girl or Naughty Girl (END) 🍁
  • Aku MUAK!!!! [End]
  • Caca
  • AILAH(END)✅
  • Rasa Cinta Yang Terpendam
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • Jejak wasiat kakakku

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines