Game Over

Game Over

  • WpView
    Reads 524
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 27, 2016
Apa yang dilakukan wanita diumur 25 tahun? Menikah? Bahkan itu terlalu tua menurutku. Demi Tuhan aku juga sangat menginginkan menikah. Target umur menikahku adalah 22 tahun, dan sekarang umurku sudah 25 tahun, artinya aku sudah telat 3 tahun dari targetku. Sekarang aku baru merasa bahwa banyak waktu yang kubuang dengan sia-sia. Dan bukan hanya penyesalan namun banyak masalah yang datang karena status lajangku. Apa wajahku ini seperti wanita simpanan? Kadang aku kesal saat satu persatu pasangan lelaki yang mendekatiku melabrakku dan menuduh bahwa aku merebut lelakinya. Hell no! Lebih baik aku mati daripada menjadi selingkuhan. Kedua, aku 3 bersaudara dan aku anak pertama, 2 adikku juga seorang perempuan. Dan mereka, sudah menikah. Sudah menikah. Sudah menikah. Oke, aku terlalu sensitif masalah itu. Bisa bayangkan betapa cerewetnya orang tuaku ketika menyuruhku menikah? Itu belum ada apa-apanya ketika kumpul keluarga pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh para paman, bibi, kakak sepupu, nenek, kakek, bahkan keponakanku adalah, "Kapan menikah?" Jawaban andalanku sejak dulu adalah, "Doakan saja." Oh Tuhan! Hinanya hambamu ini! Jika kalian berfikir bahwa aku ini anti pada cowok, hentikan pikiran itu. Diumur 27 tahun aku sudah berpacaran 12 kali. 3 kali saat sekolah dasar dan aku lupa siapa mantanku, 2 putus karena bosan, dan sisanya aku diselingkuhi. Oh, aku malu dengan fakta ini. Entah sebuah keberuntungan atau sebuah petaka, disaat aku putus asa karena statusku aku bertemu dengannya, lelaki yang tampak begitu misterius dan mempesona disaat bersamaan. Pertemuan kita seolah-olah sebuah takdir indah yang menyatukan kami, membuatu jatuh dan menyerah dengan pesonanya. Dan yang aku yakin, bahwa dia juga merasakan apa yang ku rasa. Setidaknya itu menurutku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami yang Berdosa
  • Trial & Error
  • Puisi Kegagalan
  • Turun Ranjang
  • Tak Sengaja Jodoh
  • ALA
  • MAS SUAMI (END)
  • philopobhia
  • TITIK TAKDIR

Arsya merupakan anak asisten rumah tangga dari keluarga Lidya. Saat Arsya berusia 11 tahun, ibunya meninggal. Lidya sudah berjanji bahwa dia akan menjaga Arsya. Namun, kedua anak Lidya-Kevin dan Clara membenci Arsya, karena menganggap Arsya merebut kasih sayang ibu mereka. Saat Arsya dewasa dan cukup matang, ia menikahi Lidya. Kedua anak Lidya-tak terima dan menentang keras keputusan sang ibu. Kakak dan adik itu semakin membenci Arsya. Keduanya selalu berusaha menyingkirkannya dari rumah. Namun, karena suatu kejadian, kebencian Clara terhadap Arsya, perlahan malah berubah menjadi cinta. ________________________ Kevin teriak, "Mama yang keterlaluan! Ma! Orang nggak tahu diri itu lebih muda dari aku, Ma! Apa Mama nggak malu? Selain karena anak pembantu, orang nggak tahu diri ini masih sangat muda, Ma! Beda jauh umurnya sama Mama. Tolong, Ma! Tolong! Sadar! Kalian itu beda jauh umurnya! Nggak pantes. Ini gila, Ma!" Lidya menahan oksigen di dalam tubuh untuk sekian detik. "Memangnya kenapa kami harus malu? Kami bukan pencuri, bukan penjahat, bukan koruptor. Apa ada larangan dalam hukum negara dan agama untuk menikah dengan orang yang berbeda jauh umurnya? "Menikah dengan seorang yang jauh berbeda umur, bukanlah hal yang memalukan, atau pun terlarang, asal keduanya sudah saling dewasa. Arsya sudah dua puluh tahun, sudah dewasa, dan pikirannya juga dewasa," jelas Lidya. Tangannya menunjuk Clara dan Kevin. "Tidak seperti kalian berdua, umur sudah dewasa, tapi tidak pernah berpikir dewasa." Kevin memutar badan, meremas kerah Arsya yang masih duduk, dan memaksanya berdiri. "Lo, dasar anak dari perempuan murahan! Makanya lo bahkan nggak tahu ayah lo itu siapa!" _________________ Cinta mulai tumbuh, ketika sudah terlarang. _________________ Original story by Haneaz. Dilarang plagiat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines