Paradoks:

Paradoks:

  • WpView
    Reads 7,672
  • WpVote
    Votes 457
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Thu, Jul 16, 2015
/ 1 / tentang Matahari & Bulan. "Aku tidak mau jadi matahari. Karena setiap sore, ia harus rela pergi. Padahal itulah waktu dimana ia dan bulan bertemu. Dan setiap pagi, ia kembali. Hanya untuk memastikan apabila bulan sudah benar-benar pergi." © 2015 // a, lisa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Moon and The Sun [✔️]
  • Matahari Dan Bulan (END)
  • Cinta Berbalut Puisi
  • SELENOPHILE
  • ✔️BUMI DAN BULAN
  • Purnama Keempat
  • Mawar Matahari
  • Warna Langit (Blue Orangeade Sequel)
  • ALETHA ( Completed )

Bulan yang biasa kau lihat pada langit tiap malamnya pasti memancarkan cahaya yang rupawan untuk dipandang mata. Begitu juga hamparan bintang yang mengelilinginya, keduanya nampak saling menyemangati satu sama lain. Tidak banyak yang ingat, bahwa keindahan yang mereka lihat berasal dari matahari yang tak nampak saat malam hari. Terutama sang bulan yang menjadi pemeran utama. Jika bintang gemerlap disekitarnya redup, ia akan merasa kesepian. Padahal, sedari awal matahari sudah bersamanya- memperhatikan dan terus meneranginya walau tidak pernah sekali pun bulan menyadari hal itu. Jika dipikir dengan logika, keduanya memang tidak akan pernah bisa menyatu. Mereka hidup pada waktu dan keadaan yang jauh berbeda. Namun, bisakah salah satu dari mereka mematahkan pandangan akan hal itu? Mengubahnya menjadi kisah indah antara bulan dan matahari- menyatu, juga saling melengkapi. Mungkin hanya itu yang bisa dideskripsikan tentang dua benda langit tersebut.

More details
WpActionLinkContent Guidelines