RASA
  • WpView
    Reads 512
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 25, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
"Rasa? Apa itu?" Hah. Anak kecil juga bisa menjawab pertanyaan tak berbobot itu. Banyak hal yang memiliki rasa. Salah satunya adalah hal yang paling tak asing, apalagi kalau bukan makanan. Ada rasa asam, asin, pahit, maupun manis. Hal awal untuk mengintepretasikan rasa adalah tampilan. Bila tampilan menarik mata, maka dapat diduga rasanya memikat lidah maupun hati. Begitu pula sebaliknya. Bila tampilan sudah membuat mata menoleh tak suka, lidah pun enggan merasa dan hati pun menolak. Tapi bukan makanan yang ingin kuceritakan. Akan kuberi tahu ternyata tak semua hal seperti yang kubilang di atas.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • Es Batu
  • Apakah ini Cinta?
  • Stupid Girl
  • Taste Of Love
  • My Love
  • love is complicated

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines