Lost memory

Lost memory

  • WpView
    Reads 546
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 9, 2015
Enam tahun yang lalu.... Langit berawan.Mengerang kedinginan dan mencoba keluar dari semua bencana ini.Berada dalam timbunan salju setebal satu meter.Seluruh tubuh tertimbun hanya tangan pucat yang menyembul keluar.Terpisah dari tim darmawisata.Cukup sudah semua kesialan yang kuterima saat ini. Benar-benar pasrah.Sudah selama setengah jam aku bertahan.Kekurangan oksigen,kedinginan dan dehidrasi.Tuhan,saat ini aku sangat membutuhkan pertolonganmu. Bagai matahari yang tiba-tiba keluar dimalam hari,tangan hangat meraihku.Mengeluarkanku dari semua ini. Aku melihat sesosok wajah khawatir dan sedikit memerah akibat suhu yang rendah.Aku mennyusup ke dalam pelukannya.Terasa dengan jelas hembusan nafasnya menghangatkan leherku.Aku merasa sesuatu yang lembab menyentuh pipiku.Aku membelalak. "Kamu siapa?"Aku mendongak menatap matanya.Kami berdua diam sesaat. "Kaito,"Ia kembali mengeratkan pelukannya.
All Rights Reserved
#126
ourstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Coffee Of My Life
  • My Famous Boyfriend [Completed]
  • Aerilyn
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Jejak Waktu [Complete]
  • When Love is Breaking
  • Been You
  • You are in my past and my future [END]

Sebuah kisah cinta, kisah persahabatan dan kisah keluarga. Kisah yang menceritakan pahitnya kehidupan saat menjadi dirinya. Dia gadis bodoh yang semakin hari terdesak keadaan. Menjerit meminta tolong pada angin yang tak menghiraukannya. Apa mungkin kalian percaya pada keajaiban sebuah kesetiaan dalam penantian panjang? Ibunya mungkin suatu saat akan meninggalkannya dan pria itu mungkin bukan cinta sejatinya, tapi di sudut ruang dalam setitik cahaya yang menjadi satu-satunya harapan, ia mencoba mengukir akhir kisah yang manis. -- Sakit. Rasanya sakit sekali. Aku seperti menggores tubuhku dengan pisau yang kugenggam sendiri. Namun sebelumnya tanpa kusadari, aku terlebih dulu menikamnya. Lalu, bagaimana cara menolongnya sementara tangankupun tak sanggup lagi bergerak? Apa permintaan maaf masih bisa ditoleransi? -COMPLETED-

More details
WpActionLinkContent Guidelines