We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Women Loneliness

Women Loneliness

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 30, 2015
WpInfo
Fiction
Fantasy
Story By : Qintan SekarWangi Genre : Romance , Fantasi Friends First " Bunda , Myesha berangkat ya." ucap Myesha sambil cium telapak tangan bundanya. Myesha disini digambarkan sebagai gadis baik memang dia tidak terlalu pintar tetapi sebenarnya tekad dan kemauannya sangat tinggi ia juga sopan, manis, sabar , walau dia juga jutek,pendiam , dan kadang pelupa. Disisi lain ia langsing dan berkulit "Kuning Langsat" (tidak hitam atau putih) . Diantarlah ia oleh ayahnya ke halte bus. Setelah sampai di halte Myesha pun pamit. "ayah ... Myesha berangkat ya, assalamualaikum" Ucap Myesha sambil cium telapak tangan ayahnya. "Walaikumssalam... hati-hati" Jawab ayah Myesha. Bersambung.... Guys... gimana jelek atau bagus ?? atau apa ? Maaf ya kalau jelek namanya juga baru coba buat. tapi jangan bosan dulu ya memang awalnya tak da yang mengesankan tetapi pertengahan cerita ada hal yang tak terduga lho... Ikutin terus ya ceritanya... Terima Kasih.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Amor Eterno
  • Ketulusan Nafisya (On Going)✔️
  • VANIA AND BOYS LOVE NOVEL!
  • BEAST AND YOU (End)
  •  Araya's Life
  • Only You Can Love Me This Way (ON GOING)
  • Rannia√
  • AYKARLAND
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • With you Forever

"Lo mau hubungan kita jadi kayak apa, Harlen?" Qila menghentakkan tangan pria itu, lalu menoleh cepat dengan sorot mata tajam. Suaranya bergetar-bukan karena takut, tapi karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan. "Aku... aku pengin hubungan kita jadi lebih serius," jawab Harlen pelan, nadanya seperti memohon. "Serius?" Qila tertawa miris. "Serius kayak gimana? Kayak lo yang tiba-tiba udah punya tunangan tanpa bilang apa-apa ke gue?" Harlen terdiam, tak sanggup membalas. "Atau lo mau gue jadi simpanan, gitu? Tapi sayangnya, Harlen, gue bukan cewek murahan kayak gitu," lanjut Qila sambil memutar bola matanya, malas sekali menatap wajah pria di hadapannya. "Bukan gitu maksud gue..." Harlen mencoba meraih tangan Qila lagi, tapi kali ini pun langsung ditepis. "Gue capek dengar omongan lo yang manis-manis tapi ujung-ujungnya nyakitin. Lo bilang pengin serius? Lo bilang pengin perkenalin gue ke orang tua lo? Please, Harlen. Udah telat." "Qila, tolong dengerin dulu..." "Cukup." Qila menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang hampir meledak. "Ini terakhir kalinya kita ketemu. Setelah ini, gak akan ada lagi 'kita'. Gak sengaja ketemu pun, gue harap itu gak akan pernah kejadian. Gue muak liat muka lo." Langkahnya cepat, pergi meninggalkan Harlen yang masih berdiri mematung di tempat. Tapi Harlen belum menyerah. "Qila! Tunggu, dengerin dulu!" Namun Qila tetap berjalan, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di pinggir jalan. "Jalan, Pak," ucapnya pada sopir. Taksi pun mulai melaju. Dari kaca belakang, bayangan Harlen terlihat masih mengejarnya, berteriak, memanggil namanya. "QILAAAA!" Tapi Qila tak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada apa pun di belakang yang layak dilihat kembali. Dalam hati, ia berbisik, Maaf, Harlen... tapi kali ini aku benar-benar udah gak sanggup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines