You Are My Sunshine

You Are My Sunshine

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 29, 2015
Aku diam diam memperhatikannya. Memperhatikan setiap dia bertutur kata meskipun yang diajak berbicara bukan aku tetapi orang lain. Aku juga memperhatikan saat dia tertawa lepas meskipun dia tertawa bukan karena aku. Dan aku juga memperhatikan dia saat berjalan melewatiku. Memperhatikan gerak geriknya. Memperhatikan ekspresi ekspresinya. Tetapi aku selalu memperhatikannya dari jauh. Karena aku tak mampu mendekat. Seperti terdapat pagar kokoh yang membatasi antara aku dan dirinya. Jadi aku hanya berdiri di sini. Memperhatikannya dalam diam. Aku dan dia berbeda. Sekuat apapun aku berusaha aku tidak akan mampu mengapainya. Tapi siapa sangka takdir berkata lain. Aku dan dia dipertemukan karena suatu kebodohanku. Aku tidak tau mengapa aku berani mengatakan hal paling bodoh itu. Tetapi aku juga bersyukur karena tindakan bodohku itu. Tidak. Aku tidak membicarakan tentang cinta. Karena aku tidak mencintainya. Aku hanya mengaguminya. Ya. Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak penggemarnya. Lebih tepatnya aku adalah penggemar rahasianya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • Maina & Maxim
  • Jatuh Cinta Diam-Diam
  • Can't Break (END) KTH✔
  • Admire Or Love
  • Rendra & Lila [END]
  • flashback~
  • You are in my past and my future [END]
  • Gairah Terlarang Karena Ceritamu
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)

Denting luka dan riuh kehilangan berbaur jadi satu. Pecahan-pecahan perasaan berserakan di lantai jiwa kita. Rahasia yang terlalu lama disembunyikan kini berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan. Kita mulai kehilangan-satu per satu. Kejujuran ternyata bukan hanya soal berkata benar, tapi soal keberanian untuk menanggung luka setelahnya. Kita takut berbagi sakit, takut menumpahkan amarah, takut mengakui betapa bersalahnya kita. Dan ketika semuanya pecah, hanya diam yang tersisa. --- "Dirta, jaga mereka baik-baik, ya? Aku pergi duluan. Aku sayang kamu..." - Aletha

More details
WpActionLinkContent Guidelines