Paw's
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 4, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
"Miauww~" Aku senang jika dia mengelus badan ku. Dia pernah bilang jika bulu ku begitu lembut, seperti kucing ras yang biaya perawatannya cukup mahal. Dia tau kapan waktu bermain dengan ku, dia pernah bilang jika bermain dengan ku adalah hiburan tersendiri baginya. Aku melihatnya menangis, menangis begitu kencang tetapi dia menahan suaranya dengan bantal. Dia mulai beranjak dewasa, mulai menyukai lawan jenisnya. Mulai mengacuhkan ku, dan mulai penasaran apa itu cinta(?) Tapi.. Ini aneh.. Jantung ku berdebar ketika melihatnya tersenyum sendiri ketika sedang menatap sebuah persegi panjang yang bercahaya, entah itu apa.. Apakah..? Aku mulai menyukainya(?) Menyukai seorang gadis yang tak lain tak bukan adalah seorang manusia? Lalu apa yang harus kucing kampung dengan warna bulu keabu-abuan ini lakukan? Aku hanyalah kucing, yang akan selalu menjadi kucing.. Copyright © 2015 by nissayuliawati
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grey Of SAKARUNA
  • ngger adalah vandyku
  • You're Here, But Not For Me
  • My Little Monster - Completed
  • Sisi Gelap Mantan Pacar-ku [TAMAT🌻]
  • Silent Heart!
  • MY BOY MY KISS [REVISI]
  • The Journey of Miss What (completed)
  • KERLIP BINTANG CINTA
  • Arsyilazka

Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya? Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku. Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun? Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa? Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Maksudnya apa? Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya. Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines