Cintaku, 16 Tahun Lagi

Cintaku, 16 Tahun Lagi

  • WpView
    Reads 320
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 20, 2015
Aku menerbangkan imajinasiku keluar. Kembali menjelajah dan memberanikan diri mempertanyakan dan membayangkan kebenaran dalam kata-kata Daniel. Dan Ya Tuhan, aku semakin mencintainya. Kami akan menghadapi dunia dengan cinta, berharap cerita kami seperti yang selalu terjadi di FTV dimana kedua tokoh akan bertemu, jatuh cinta dan berbunga-bunga, mendapati beberapa masalah yang menyesakan dada, menyelesaikannya dengan solusi dan cara-cara yang menakjubkan kemudian memiliki akhir yang bahagia. Aku tau itu terdengar terlalu naif. Aku hanya ingin mempercayainya. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri, terlepas dari bagaimana kenangan yang telah kami dapatkan, baik itu orang tua Daniel maupun orang tua ku. Gumpalan-gumpalan putih di langit berjalan berarakan tertiup angin. Terlihat seperti malaikat yang akan melindungi masa depanku. Aku menenggelamkan kepalaku di lekuk leher suamiku tercinta. Menempatkan cinta dan segala harapan akan selalu bisa berada di sana.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • Cita Cinta Jenna
  • TEOLOGI CINTA
  • Paper Hearts
  • "You Don't Know Love" ( END)
  • IF YOU

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines