All For You

All For You

  • WpView
    Reads 22,521
  • WpVote
    Votes 816
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Sat, Sep 26, 2015
Untuk kesekian kalinya Hujan turun membasahi bumi, sepulang sekolah Pasha tidak langsung pulang melainkan menunggu jemputannya datang meskipun dilain sisi dia membawa payung didalam tasnya. seorang gadis dengan rambut kepangnya berdiri didekat tangga sambil memandangi tanah yang sudah basah karena hujan gadis itu terlihat bingung dan akhirnya Pasha datang menghampirinya. "Ambil lah" sebuah payung baru saja dikeluarkan Pasha dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada gadis itu. "Terima Kasih" gadis itu lekas pergi dengan payung yang dipinjamkannya. Pasha memandang kepergian gadis itu, meskipun dirinya tidak mengenal siapa dia sebenarnya
All Rights Reserved
#275
kpopfanfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Keheningan
  • Karena Aku Mencintaimu...
  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
  • SANDI & FANYA
  • Cold Girl (End)
  • Teruntuk Mia
  • Fajar & Senja
  • Don't Be A Stranger [END]
  • Cold Like You [END]
  • Love and Tears [END]

Hujan turun tanpa henti, membasahi setiap sudut kota yang kelabu. Di antara orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh, satu gadis berdiri sendiri di tepi jalan. Basah kuyup, tubuhnya gemetar, tapi tatapannya tetap lurus ke depan. Ia melangkah perlahan, tanpa tahu... lampu lalu lintas telah berubah hijau. Dari balik kaca toko roti kecil, seorang pria melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia menerobos keluar, menerjang hujan, dan menariknya mundur sebelum suara klakson menyayat udara. "Ya Ampun, kalau mau nyebrang lihat sekeliling dulu, dong!" Gadis itu hanya terdiam. Matanya menatap kosong, tidak takut... hanya asing. Kemudian ia mengangkat tangan, dan dengan gerakan sederhana yang nyaris tak terlihat, ia berkata tanpa suara: Aku tidak bisa mendengar. Saat itu, waktu seakan berhenti. Di bawah hujan yang deras, dua orang yang tumbuh di dunia yang berbeda-saling bersentuhan untuk pertama kalinya. Bukan dengan suara, tapi dengan rasa. "Dunia kami mungkin berbeda, namun dalam keheningan dan kebisingan itu, kami menemukan cara untuk saling merasakan dan mengerti." - Rakasha.

More details
WpActionLinkContent Guidelines