Keeping The Heart

Keeping The Heart

  • WpView
    Reads 871
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Thu, Apr 14, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
"Sepakat gaada ikatan tapi saling menjaga perasaan satu sama lain lebih baik kok, daripada tembak menembak tapi ga bisa menjaga setiap komitmen yang ada" Mungkin kata kata itulah yang bikin gue bertahan sampe sekarang. Haha kok rasanya idup gue dramatis gini ya #plaknabokjidat. Ehh iya gue belom kenalan ya, kenalin nama gue key gadis ravandra. Gue anak ketiga dari 2 bersaudara bisa di bilang gue anak bungsu sih, kakak pertama gue cowok namanya kenzi putra ravandra kakak gue baik kok sumpah tapi usilnya itu yang ga ketulungan udah kayak penyakit akut yang gabisa di sembuhin *apadehbahasague Gue juga punya tuh kakak perempuan dia cantik, anggun, modis bertolak belakang banget sama gue. namanya kenisa putri ravandra. Ehh udah ya kenalannya kepanjangan nih gue aja capek nulisnya. Hahah
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • TRANSMIGRASI RATU SI PEMBULY NOMOR 1
  • Keazen (A Sly World)
  • Pretty Careless
  • the other side
  • Keyvandra
  • Menyimpan Rasa (END)
  • Sacrifice Of Love
  • ASAVELA KIARA

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines