Klandestin

Klandestin

  • WpView
    LECTURES 1,289
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Chapitres 12
WpMetadataReadContenu pour adultesEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., mars 27, 2018
'Hmm... Jadi, itu semua hanya sebuah mimpi, bukan?' 'Ah, sepertinya tidak.' Semua bertambah rumit ketika Ellie mulai mendengar suara orang - orang yang ada dalam mimpi buruknya di kehidupan nyata hingga akhirnya dia mempertanyakan kewarasannya. Dengan suara tersebut, dia bertemu dengan seorang laki - laki yang mirip dengan anak kecil yang selalu menemaninya bermain di dalam mimpi. Lalu, karena pertemuannya dengan laki - laki itu, kini dia terombang - ambing di antara ilusi dan kenyataan. Akhirnya, kisah ini menjadi terlalu gelap bagi sebuah ilusi, namun terlalu mengerikan bagi sebuah kenyataan. ***** PS: alur awalnya emang agak lambat demi membangun cerita, tapi setelah Chapter 5 ke sana, udah mulai tense kok hehehe selamat membaca :) Cover diambil dari joeljansevanvuuren.com dan canva.com
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Pangeran Kegelapan
  • THE NAIAD (transmigrasi) {END}
  • Quant (On Going)
  • Gerbong Mimpi
  • Syerli And The Wounds That Never End
  • The Starborn [97 Line] | NEW
  • SHADOW HUNTER
  • Lentera Lily
  • I Have Crush On You {Tamatt}
  • My Little Monster - Completed

Malam semakin larut, namun tidur menjadi hal yang mustahil bagi Mael. Setiap kali dia memejamkan mata, dunia di sekitarnya seakan berubah. Suara gemerisik dari sudut-sudut ruangan, desahan napas yang tidak berasal dari dirinya, dan bayangan-bayangan yang menari di balik tirai gelap kamarnya membuat dadanya terasa semakin sesak. Saat dia berbalik untuk kesekian kalinya di tempat tidur, suara itu kembali muncul-seperti bisikan yang tertiup dari balik dinding, rendah dan penuh kekuatan. "Mael... Kau tidak bisa lari..." Dia terlonjak bangun, matanya terbuka lebar, jantungnya berdetak keras. Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi. Dia duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam dan berusaha meredakan gemuruh di dadanya. Bisikan itu, suara yang sama dengan yang ia dengar di perpustakaan, menghantuinya lagi. Pikiran Mael kacau. Apakah ini nyata? Ataukah dia sudah kehilangan akal? Sejak mimpi itu, dunianya berubah menjadi labirin ketakutan yang tak bisa dia pahami. Mata Mael bergerak ke sudut kamar, ke arah bayangan yang terasa lebih pekat daripada biasanya. Di sana, samar-samar, dia melihat sesuatu. Sesosok tubuh samar yang menyatu dengan kegelapan. Tubuh itu bergerak perlahan, semakin dekat, seperti makhluk yang merayap dari kedalaman mimpi buruknya. "Siapa kau?" Mael berbisik, meskipun dia tahu tak ada jawaban.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu