We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Your's My Mate

Your's My Mate

  • WpView
    Reads 7,355
  • WpVote
    Votes 381
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 5, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Aku melihat cahaya terang yang berasal dari tengah hutan, hatiku ragu untuk melangkah lebih jauh tapi kakiku menuntunku untuk mendekati sumber cahaya, sampai aku bertemu sosok yang sangat besar dengan mata merah menyala. Sontak aku menutup mulutku, menahan teriakan yang hendak kelur dari mulutku, saat aku hendak melangkah mundur dia berbalik ke arah ku. Aku berlari dengan kekuatan wolfku masuk ke tengah hutan lebih dalam lagi, sampai di dalam hutan yang tak berujung. Aku merasakan sakit di rambutku, saat aku mendongakkan kepalaku sosok mengerikan itu, dengan mata merah yang menyiratkan kemarahan. Ia menarik rambutku hingga aku mulai kehilangan kesadaranku.
Public Domain
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Luka Anak Pertama
  • Dunia Dibalik Kabut: Kebangkitan Kegelapan
  • Dangerous Woman
  • Titik di Bagian Koma
  • Taking What's Hers [Jenlisa Adaptation]
  • My Alpha White Wolf
  • IAM BAD MATE [end]
  • My Sister Is Mine (Werewolf)
  • Villain Also Has A Reason [END]

Sejak kecil, Aksa Dirgantara belajar bahwa menjadi anak pertama berarti harus mengerti lebih banyak dan meminta lebih sedikit. Ia harus menjadi contoh yang baik Harus mengalah Harus menjaga adik Harus memahami keadaan orang tua Dan yang paling penting, tidak boleh terlihat lemah. Setidaknya, begitulah yang selama ini ia pikirkan Kini Aksa telah dewasa. Ia memiliki pekerjaan, penghasilan sendiri, dan kehidupan yang dari luar tampak baik-baik saja. Namun, ada satu hal yang tidak pernah ikut tumbuh bersamanya: keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya juga lelah. Setiap kali keluarga membutuhkan sesuatu, Aksa berusaha menjadi orang pertama yang membantu. Ketika adiknya memiliki masalah, ia menjadi tempat bercerita. Ketika orang tuanya membutuhkan dukungan, ia berusaha ada. Tetapi ketika Aksa sendiri membutuhkan tempat untuk pulang, ia tidak tahu harus mengetuk pintu siapa Malam itu, setelah seharian tersenyum di hadapan banyak orang, Aksa duduk sendirian di kamar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines