I Love Cooking

I Love Cooking

  • WpView
    Reads 151
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 9, 2015
WpInfo
Fanfic
Apakah kalian lahir dari keluarga yang pandai memasak? Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga yang semua keturunannya pandai memasak. Dari kakekku, nenekku, mamahku, papahku, kakakku, bahkan adikku yang masih SD. tetapi, tidak bagiku! Aku adalah anak yang tidak pandai bahka tidak bisa memasak. Nilai memasakku saja jelek. Beberapa kali, aku dibujuk untuk memasak. Tetapi, aku menolaknya dengan tegas. Sebenarnya, aku takut kalau menyalakan kompor. Takut kompornya meledak! Atau ada cipratan minyak panas yang dapat membuatku terluka. Bisa juga makanan yang kubuat gosong dan GAGAL TOTAL!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • Little Family
  • Bayangan di Rumah Sendiri
  • Infinito 🧠
  • adel si bungsu
  • ONDAH FAMILY
  • Bitter Life Him
  • Happy
  • JIWA YANG RETAK

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines