Cowok Introvert

Cowok Introvert

  • WpView
    Reads 694
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Oct 11, 2015
Nama gue Anggita Andriani. Gue masih 16 tahun. Gue orang yang bawel, dan ceplas-ceplos. Cenderung tomboy kata orang tapi gue ngga ngerasa tomboy, toh buktiknya gue nggak pernah tuh pendekin rambut kayak model rambut cowok, justru rambut gue panjang dan lurus sepunggung tapi gue kuncir. Gue jarang-jarang suka sama cowo, sekalinya gue suka gue nggak bisa suka sama yang lain. Tapi gue selalu alami patah hati karena gue nggak pernah bisa ngungkapin perasaan gue atau ngasih kode-kode kalo gue suka sama seseorang. Jadi, gue sama cowok yang gue deketin atau yang gue deketin, selalu berakhir dengan "cuma temenan aja". Tipe cowo gue ? Ng.. Tergantung selera gue aja sih. Nggak harus yang kayak gini yang kayak gitu tapi cuma satu yang bukan selera gue. Cowo pendiam. Ini cerita gue...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Cloud Love (Part 1 Completed)
  • CRUSH | SO JUNGHWAN ✅
  • ALEAGAS [END]
  • Eliinaa
  • (bukan) JODOH [COMPLETED]
  • Antara Pagar dan Perasaan
  • BAD GIRL
  • From 23 [END-TAHAP REVISI]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines