We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
ANDAI DIA TAHU

ANDAI DIA TAHU

  • WpView
    Reads 115
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 14, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Tak terasa cahaya matahari seperti membangunkanku dan masuk lewat jendela kamarku, aku mulai bangun dari tidur lelapku, dengan santainya aku melihat jam weker ku yang mungkin sudah berulang kali berbunyi untuk membangunkanku dari tidur nyenyakku itu . Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah ************ Sesampainya disekolah aku langsung bergabung dengan teman-temanku , bercanda riang, bergembira, sampai kadang tak terkendalikan . Allhamdulillah aku mempunyai teman-teman yang amat sangat sayang kepadaku, mereka menjadi keluarga ke-2 ku.. Hingga bel tanda masuk pun berbunyi dan saatnya untuk kami menjalankan rutinitas kami sebagai pelajar . Ya, akhir-akhir ini kita sangat disibukan dengan semua pelajaran, maklum kami sebentar lagi akan beranjak ke jenjang yang lebih penuh dengan tanggung jawab , tak terasa hari demi hari sudah terlewati dan mungkin hanya beberapa bulan lagi kita akan berpisah , karna kami sudah di jenjang kelas 3 . kebayangkan mulai seriusnya..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Ayesha Transmigration
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • M E M O R Y  (On Going)
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • kiara's dream
  • My Duchess / End
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines