ANDAI DIA TAHU

ANDAI DIA TAHU

  • WpView
    GELESEN 114
  • WpVote
    Stimmen 9
  • WpPart
    Teile 5
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Okt. 14, 2015
Tak terasa cahaya matahari seperti membangunkanku dan masuk lewat jendela kamarku, aku mulai bangun dari tidur lelapku, dengan santainya aku melihat jam weker ku yang mungkin sudah berulang kali berbunyi untuk membangunkanku dari tidur nyenyakku itu . Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah ************ Sesampainya disekolah aku langsung bergabung dengan teman-temanku , bercanda riang, bergembira, sampai kadang tak terkendalikan . Allhamdulillah aku mempunyai teman-teman yang amat sangat sayang kepadaku, mereka menjadi keluarga ke-2 ku.. Hingga bel tanda masuk pun berbunyi dan saatnya untuk kami menjalankan rutinitas kami sebagai pelajar . Ya, akhir-akhir ini kita sangat disibukan dengan semua pelajaran, maklum kami sebentar lagi akan beranjak ke jenjang yang lebih penuh dengan tanggung jawab , tak terasa hari demi hari sudah terlewati dan mungkin hanya beberapa bulan lagi kita akan berpisah , karna kami sudah di jenjang kelas 3 . kebayangkan mulai seriusnya..
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • SI BUNGSU
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • M E M O R Y  (On Going)
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • ALVIN (On Going)
  • Good Girl or Naughty Girl (END) 🍁
  • MsS 2 : Ini Aku [ COMPLETED ]
  • kiara's dream

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien