---BLOODY LOVE---

---BLOODY LOVE---

  • WpView
    Reads 98
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 15, 2015
…Abad Ke 19… Tahun 1880 di sebuah kastil bernama Neuschwanstein (baca: nuschuanstein) dan terletak di bukit dekat Hohenschwangau di selatan Bavaria, Jerman, terlihat seorang wanita muda berusia 19 tahun berlari duduk mengendarai kuda di tengah malam. Rambut pirangnya tampak menghibas ketika ia tengah berusaha melarikan diri dari kastil singgahsana nya. Disaat ke dua orang tua dan para penjaga tertidur pulas, wanita itu meninggalkan semua yang ia miliki disana. Nafasnya tersengal karena harus terus memacu kudanya. Sebuah mutiara berwarna emas putih menghiasi puncak kepalanya. Meski di lubuk hatinya ia merasa takut untuk meninggalkan kastil yang ada di atas sebuah bukit. Memutuskan untuk tidak lagi menuruti perintah ke dua orang tua nya. Menolak untuk di nikahi dengan seorang manusia, wanita itu hanya mencintai kekasihnya yang bukanlah mahluk sempurna, melainkan seorang vampir. ,”Hosh..hosh..” Sang wanita berambut pirang itu terus menarik nafas yang tersengal. Kuda putih nya terus berla
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Bring Me to Life [END]
  • A Vow Of Hate [ END ]
  • Gairah... Istri Pertama
  • TOUCHED (End)
  • Afwan Hanum ✔ [SELESAI]
  • [END] Putri Bupati yang Melawan Hantu Setiap Hari
  • Not Seen

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines