HUKUM KEINDAHAN {ON GOING}
Dulu, aku mengira diriku adalah seorang pengelana yang bebas, bergerak tanpa arah di luasnya ruang hampa. Tak tentu arah. Namun, semua itu berubah saat aku memasuki orbitmu.
Dalam filosofi bumi, ada hukum yang tak terelakkan: Gravitasi. "Bumi tidak pernah memaksa bulan untuk tetap tinggal, ia hanya memberikan pusat untuk pulang. Begitulah caraku memandangmu. Ziya, adalah poros dari segala rotasi perasaanku."
Aku tersenyum karena bagiku, mengagumi Ziya adalah tentang menyadari bahwa gadis itu adalah ekosistem yang utuh. Jika Ziya adalah Bumi, maka aku ingin menjadi atmosfernya-lapisan tipis yang mungkin tak selalu dia sadari keberadaannya, namun selalu ada untuk membakar meteor-meteor kesedihan sebelum sempat menyentuh permukaan hatinya yang lembut.
Ada saatnya dimana, nanti, dia bisa menyadari bahwa aku mengaguminya, secara terang-terangan. Seperti matahari yang menyinari khatulistiwa-- penuh semangat dan binar. Tapi, untuk sekarang, biarkan ini menjadi rahasia yang paling sunyi.
- Raga untuk Ziya. Bandung, 25 mei 2023.
Raga menutup buku catatannya, entah sudah yang ke berapa kali laki-laki itu kembali menatap indahnya bulan diatas sana. Cantik sekali.
"Entah seindah apa nantinya, gue gak akan pernah berhenti untuk berdo'a."
"Tapi, Jika nanti dia tak bisa dimiliki. Setidaknya Tuhan tau, semua do'a untuknya itu, tulus."