Waiting For

Waiting For

  • WpView
    LECTURES 118,529
  • WpVote
    Votes 5,177
  • WpPart
    Chapitres 39
WpMetadataReadTerminé mar., avr. 12, 2016
Gadis itu seperti angin yang berhembus di malam hari. Dingin dan menusuk kulit. Saat dia terpuruk dan terjatuh, dia tak akan menunjukkan rasa sakitnya. Lukanya. Dan yang paling jelas adalah sikap dinginnya yang entah sejak kapan dan bagaimana dia bisa memilikinya. Lelaki itu seperti bulan yang menyinari bumi di malam hari. Saat semua mulai menggelap, bulan itu menunjukkan sinarnya, sebagai sebuah harapan. Tak lupa juga sifat tidak terprediksinya yang membuat orang sulit untuk membaca pikirannya. Tapi siapa sangka jika lelaki itu punya alasan terkuat untuk kembali ke tempat dimana seharusnya ia berlabuh? Jika si gadis angin tidak ingin mencintai si lelaki bulan, lalu kenapa dia tidak bisa melupakan perasaannya? Well... Because you are the only one i've been waiting for - E.L (131115) Ilustration by On_seventeenth Copyright by On_seventeenth
Tous Droits Réservés
#390
comfort
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Paradise
  • Holla, Hiper! (Complete)
  • 𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐇𝐨𝐦𝐞? {𝐄𝐍𝐃}
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • PLUTO
  • Juan [REVISI]
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]
  • Too Far to Hold [COMPLETED]
  • R E T A K [1] ✓
Paradise

(SUDAH TERBIT) PESAN DI SHOPEE LOVELYMEDIA. "Lihat saudaramu yang lain! Mereka berprestasi! Tidak buat onar! Membanggakan orang tua!" Baginya yang terbiasa dibandingkan dengan saudara sendiri, mendengar perkataan itu tak lagi menimbulkan sakit meski sesekali menangis dalam diam. "Woi cupu! Beresin nih sekalian buang sampahnya. Awas aja lo masih bisa santai disini." "Orang kayak lo emang pantes dapet temen?" "Makanya gak usah belagu! Dasar babu!" Lambat laun perkataan mereka tak lagi berefek pada hatinya, apa ini? Apakah ini yang disebut mati rasa? Ternyata ... setelah mati rasa pun ia tetap merasakan pahit yang sulit dijelaskan. Mengapa begitu banyak orang yang membencinya? Apa salahnya? Di mana letak kekurangannya? "Urus diri lo sendiri!" "Dasar manja!" "Qi, urusan abang bukan cuma kamu. Jangan egois." Ah, begitu. Ternyata di mata ketiga saudaranya pun ia terlihat manja dan menyusahkan. Bagaimana ini? Hatinya kini sudah pecah berkeping-keping, ia tak lagi merasakan dirinya sendiri. Harapannya ... sungguh sederhana, semoga kelak Ayah dan ketiga saudaranya dapat kembali menyayanginya. Semoga masa SMA-nya bisa seindah cerita novel yang ia baca. Semoga keinginan itu dapat ia rasakan sebelum ajal menjemputnya dengan paksa. .... Warning: violence, harsh word, bullying, suicide, etc. All picture from pinterest.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu