Senandung Dari SURGA

Senandung Dari SURGA

  • WpView
    Lectures 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., oct. 15, 2015
WpInfo
Histoires vraies
Hidup tidak harus mengharap banyak dengan bantuan orang lain. Memang sebagai manusia,kita punya banyak kebutuhan. Dan sebagai manusia yang berakal, jika kita mempunyai kebutuhan untuk kelangsungan hidup,tentunya kita berusaha memenuhinya,dan tentu saja kita akan mengeluarkan imbalan untuk memperolehnya. Maklumlah,di dunia ini sudah tidak ada yang gratis kecuali oksigen dan air mengalir.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Syal Merah
  • 𝓐𝓴𝓾 𝓢𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓜𝓮𝓶𝓪𝓷𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓛𝓪𝓷𝓰𝓲𝓽 𝓑𝓲𝓻𝓾 𝓘𝓽𝓾
  • LOVE AND DESTINY TAEJIN
  • Don't Make It a Wrong Place
  • Jagain Jodoh Orang (End)
  • Keyakinan Hati

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu