Love in 1st Class Mapping

Love in 1st Class Mapping

  • WpView
    Reads 161
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 25, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
Awal bagi kita dimulai secara kebetulan, kita bersama di kelas pemetaan tapi tak saling mengenal. Pada awalnya, aku tak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Kita berkenalan setelah kelas pemetaan berakhir, anehnya aku tak pernah menyadari keberadaanmu sekalipun aku tak pernah melihatmu. Namun, seiring berjalannya waktu, perhatianmu, ucapan-ucapanmu membuatku merasa ada kenyamanan. Ya, itu mungkin CINTA. Setiap kau kirimkan pesan singkat itu, aku selalu tersenyum sendiri, suara dan petikan gitarmu yang awalnya membuatku merasakan ada keganjalan, kini berubah menjadi pengantar tidurku setiap malam. Mengingat malam itu, malam terakhir perkemahan kau menungguku. Aku takluk akan perjuanganmu dan saat itu aku memang tak cukup yakin, namun aku tetap mengiyakan. Dan selepas itu, perhatianmu terus memberikan kenyamanan untukku. Ya, malam itu semunya bermula 16 Agustus 2015, di Bumi perkemahan Lajulo disaksikan bendera cikal yang berkibar disetiap sudut area perkemahan.
All Rights Reserved
#13
scouting
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • PRAMUKA IN LOVE ✔
  • Lima Langkah
  • RIVAL (Zeedel) Season 2
  • is this Love (?)《Yu Zeyu》[✓] {REVISI}
  • FASE
  • So It's You !
  • Titik Yang Benar
  • Oreology
  • Anak Sekolahan ( END ) ✔️

Seratus Meter dari Hatimu Dulu, kupikir jarak paling rumit adalah antara dua kota. Antara kampung halaman dan ibu kota. Antara kenyamanan yang kutinggalkan dan dunia baru yang sedang kucoba taklukkan. Tapi ternyata, jarak yang paling sulit bukan soal kilometer atau waktu tempuh. Jarak paling rumit adalah seratus meter dari hatimu-tempat aku berdiri, tapi tak pernah benar-benar kau sadari. Segalanya berawal biasa saja: kos baru, teman sekamar yang bawel tapi hangat, lingkaran pertemanan yang mengisi hariku dengan tawa, tugas, kopi sachet, dan obrolan tengah malam. Aku merasa cukup. Nyaman. Aman. Hingga seseorang hadir dengan caranya yang tak terduga. Terkadang ceplas-ceplos, kadang diam dan terlihat jauh. Dia bukan tokoh utama di hidupku, bukan pula pangeran dalam kisah dongeng. Tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa seperti rumah dalam keriuhan kota. Sayangnya, tak semua rasa harus tumbuh. Dan tak semua perhatian berarti istimewa. Ini kisahku, Caca. Seorang mahasiswi yang mencoba bertahan di antara tumpukan tugas, tawa tongkrongan, dan teka-teki bernama Arvin. Ini tentang dua circle pertemanan, dua sisi dunia, dan satu rasa yang pelan-pelan ingin ku bungkam. Karena terkadang, menyukai seseorang tak harus dimiliki. Cukup dilihat dari kejauhan-seratus meter, atau bahkan lebih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines