Ara's Love Moment

Ara's Love Moment

  • WpView
    Reads 4,077
  • WpVote
    Votes 226
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 19, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
"Tolonglah... Seenggaknya, lakuin ini buat gue..." pinta Dewa dengan tatapan memelas. Natha menggeram frustasi. Jika yang diminta Dewa saat ini hanya Erland Group atau nyawanya, dia pasti akan memberikannya pada sahabatnya itu tanpa berpikir dua kali. "Kau gila, Bang!" Dewa mengangguk setuju dengan ucapan bernada setengah cela yang terlontar darinya. Namun, bukan berarti pria itu akan menyerah dengan niat awalnya yang gila. Bergaul demikian rapat selama belasan tahun setidaknya membuat Natha mampu membaca tekad kuat yang terpancar dari sorot mata memelas itu. "Gue bahkan bersedia ngelakuin hal yang lebih gila jika itu buat Mas Rama," tandasnya tak terbantah. "Please, kita nggak punya banyak waktu."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hasrat Sang Pecinta
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Impossible
  • Sailing With You [END]
  • Suami Sempurna 21 +
  • DIKANESHA
  • SAH (Menikah Dengan Mantan)
  • TAKDIR (COMPLETED)
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • My Boss My Husband

Naya tersentak, punggungnya membentur pintu sebelum mencerna apa yang terjadi. Tubuh Isaac tiba-tiba sudah menghimpitnya dan bibir pria itu menangkap bibirnya. Membawanya dalam ciuman yang dalam. Di tengah ketidak siapannya. "I-Isaac ...." Naya akhirnya mendapatkan kesempatan memanggil nama pria itu di tengah ciuman dengan memiringkan wajah. Melepaskan ciuman pria itu bersama suara tangis bayi yang terdengar dari monitor bayi. "T-tunggu se ..." "Aku tak ingin keberadaannya mengganggu hubungan kita, Naya. Apa aku sudah mengatakannya padamu? Aku mempekerjakan mereka untuk mengurusnya." Raut wajah Naya membeku dengan suara Isaac yang sedingin tatapannya. Kepalanya menggeleng pelan, bersama tangisan Aaron yang mulai berhenti. "Kupikir tiga bulan waktu yang cukup bagimu untuk terbiasa dengan kehidupan pernikahan kita, kan?" Naya menelan ludahnya yang pekat, ia butuh waktu untuk mempersiapkan hal ini dan di saat yang bersamaan tahu kalau Isaac tak butuh mengulur waktu. Napas panas pria itu berhasil membuat kedua kakinya gemetar. Pria itu benar, seharusnya tiga bulan waktu yang cukup baginya untuk mempersiapkan diri. Kepalanya mengangguk pelan, yang langsung disambut ciuman oleh Isaac. Ciuman yang lebih dalam dan lebih panas.

More details
WpActionLinkContent Guidelines