Who Are We?

Who Are We?

  • WpView
    Membaca 50
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadLengkap Rab, Okt 21, 2015
Gadis itu berlari dengan tergesa menyeberangi halaman rumah kost yang luas. Pagar besi yang dilewatinya tadi dibiarkan terbuka begitu saja demi menempuh kesalahanya. Tak dihiraukannya tatapan penasaran para lelaki yang ia lewati sepanjang jalan kost putra. Yang penting ini tersampai "Maaf, Ga .. ini," sambil membungkuk dengan satu tangan memegangi lutut dan mengatur nafas, gadis itu memberikan kunci berbandul biru. Ega yang berdiri begitu mendengar suara lari cepat Ame dibelakangnya, langsung meraih kunci dan memasukkannya ke lubang, membuka kamarnya. "Masuk Me, istirahat dulu!" ajaknya sambil melepas sepatu kemudian menarik tangan Ame. Gadis itu yang belum siap beranjak dari lelahnya hampir terjungkal kalau saja Ega tidak segera menahan bahunya. Ega tertawa hambar, Ame tersenyum malu. Mereka sama-sama canggung. Tadi gadis itu mendapat pesan dari Ega bahwa kunci kamarnya tertukar dengan miliknya, dan tanpa mengucapkan apa-apa, Ame langsung berlari menemui Ega. Tak peduli Ega sudah sampai di kost atau belum, ia harus segera menyampaikannya. Ini kesalahan pertama sejak Ame memutuskan menjadi pembawa kunci Ega, yang notabene sangat teledor terhadap barang kecil. Bagi Ega, kunci bukanlah sesuatu yang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, jadi untuk apa dijaga. Tiap pagi Ega akan menemui Ame didepan gerbang kost mereka hanya untuk memberikan kuncinya kemudian berpisah di gerbang utama kampus karena mereka berbeda jurusan. Jarak kost ke kampus hanya beberapa menit, jadi ditempuh berjalanpun tak akan menyita waktu. "Ini..!" segelas es jeruk mampir di pipi Ame. Memaksanya bangun dari tidur tengkurapnya di ranjang Ega, duduk dan menerima gelas itu. "Jeruk terus bosen Ga.." ujar Ame dengan nada yang dibuat manja. Ega yang tak begitu menghiraukan lebih memilih melanjutkan kegiatan membacanya. Gadis itu menghembuskan nafas kecewa. Ega selalu saja cuek, berkebalikan dengan dirinya yang kadang sangat merepotkan. Mungkin dengan itu mereka saling mel
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • Effort ( COMPLETED )
  • Xagala
  • ANNISA {ON GOING}
  • TERJEBAK DALAM RASA [TERBIT]
  • ARGI [END]
  • It's Me
  • My Name Is Erwinda
  • Tentang karen (HIATUS)

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan