We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Potret
  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 24, 2015
WpInfo
Fiction
Paranormal
"Bang, berapa harga yang ni? " Aku menyoal pemilik kedai yang kukira tua 10 atau 20 tahun dariku. "3,000 dik, itupun dah offer . Sebelum offer harga 3,500" Pemilik kedai yang ku panggil abang turut tersenyum ketika aku melemparkan senyuman padanya. Kusentuh potret itu dengan penuh minat. Terasa seperti ia bernyawa . Aku seakan dapat merasakan aura lukisan itu melayang diudara. Seni.. Ya, aku suka seni.. Aku tak nak menipu apa yang aku sentuh dan rasa.. Seni itu indah.. Terlalu indah.. Lamunanku terhenti tatkala pemilik kedai menyoalku. "Berminat ke dik? " Aku hanya tersenyum. Duit yang aku bawa hanya rm2,000 . Aku terfikir untuk pergi ke kedai yang lebih murah tetapi hasilnya berkualiti. "Takpe bang, saya tengok2 dulu. Terima kasih." Aku melangkah keluar dari kedai itu. Merenung langit yang kian cerah dan terik yang kian terasa. Aku menekadkan azam untuk terus mencari lagi. Aku terhenti di sebuah kedai yang agak tersorok dan suram. Aku terlihat sesuatu yang menarik. Potret. Ya sebuah potret. Aku melangkah masuk. Sunyi sepi. Yang kedengaran hanyalah bunyi kipas .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stuck In Memories
  • • k𝒾kilala •
  • BERUBAH
  • Kerana janji
  • First - THE LAST LOVE FOR US - [ C ]
  • Seduced by Childish way
  • Kisah Hati Kita
  • OMG! Ketua Pengawas Itu Suami Aku? [C]
  • [COMPLETED] Dia Semanis Gula Kapas

Seketika ingatanku terjebak pada harapan bodohnya. Ketika kami duduk berdampingan pada malam yang kelam benderang : "Nanti kalo udah jadi arsitek beneran, gue bakal rancang rumah mini gue disini. Rumah beratap rumbia yang ada cerobong asapnya. Lantai marmer dan dinding dilapisi cat pastel anti air plus taman baca berbentuk daun teh. Klop banget". Peter menyampaikan impiannya itu dengan gerakan tangan, seolah-olah ia benar-benar merancangnya. Langsung saja aku menepuk lembut pipi kanannya. "Itu proyek gue, ya maksudnya rancangan proyek gue kalau kita udah nikah nanti" Ujarnya lagi membetulkan "What a strange project" Responku singkat. Kami tertawa berbarengan. Sejenak kemudian kami sama-sama diam. Di malam yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan itu, aku bersyukur beberapa kali diberi kesempatan untuk bisa bersamanya dan berharap esok akan tetap seperti ini. Bahkan lebih dari sekedar malam ini, esok dan seterusnya pun akan menjadi milikku dan dia. Entah dipikirannya sama denganku atau tidak, seperti yang ia katakan, spesial itu adalah ketika kita bersama orang yang kita sayangi dalam kondisi sesulit apa pun. Itu tepatnya. Dan, yang sekarang aku pinta hanya ingin dia hadir disini. Merencanakan mimpi-mimpi bodohnya lagi. Tapi, apa masih bisa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines