HOPE
  • WpView
    Reads 4,386
  • WpVote
    Votes 92
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 8, 2016
"Mau kemana, Vin?" tanya Zian saat Kevin hendak bangkit dari duduknya. "Toilet," "Jangan jauh-jauh dari gue," Kevin yang mendengar kata-kata gadis yang ada di sebelahnya itu menaikan alisnya. Batin Kevin merasakan hal yang tak biasa. Walaupun wajah Kevin menampakkan raut yang biasa saja. Tetapi jantungnya berdetak dua kali lipat. Apakah gadis di hadapannya tidak menyadari itu? "Jangan jauh-jauh dari gue, nanti gue gak kena hotspotnya," Sial! Gue kena rayuan maut, batin Kevin. "Yaelah! Calm down. Hape gue di atas meja tuh. Gue mau ke toilet," Kevin berjalan menjauhi meja. Hatinya kecewa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI
  • CALZEYN(Tahap Revisi)
  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • Marga Alvarezka
  • Guru Killer Siswi Keder 《proses Revisi》
  • GUNFA
  • Hope is a dream that is doesn't sleep
  • Bentangan Payung Biru
  • Teka-Teki || Kevin Sanjaya

SELESAI REVISI | CERITA SELESAI | PART LENGKAP --- "Damar! Lepasin aku!" "Fabian itu siapa, hah?! Kenapa kau akrab banget sama dia?!" "Dia cuma teman, Damar! Lepasin aku!" "Cuma teman?! Kau pikir aku bodoh?!" "Da-Damar... Apa yang kau lakukan?!" Namun Damar sudah tenggelam dalam emosinya. Jemarinya merobek paksa kancing kemeja gadis itu, satu per satu kancingnya beterbangan ke lantai. "Jangan! Damar, tolong!" Air mata Chelsie mengalir, tapi tangannya tak mampu menahan dorongan kasar lelaki itu. Semua terjadi begitu cepat. Suara gesekan kain, tubuh yang meronta, air mata yang mengalir tanpa henti. Dan akhirnya... semuanya hancur. Keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan setelah semuanya berakhir. Nafas Damar masih terengah, tubuhnya kaku, jari-jarinya masih mencengkeram sprei yang berantakan. Baru saat itu ia sadar... apa yang baru saja ia lakukan? Di depannya, Chelsie terdiam dengan tatapan kosong. Roknya sudah tersingkap, kemejanya terbuka berantakan, dalamannya entah ke mana. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Damar menatap tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa jemari itulah yang telah merusak segalanya. Ia mencoba mendekat, tapi Chelsie tiba-tiba menjerit dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya-bantal, gelas, bahkan jam meja yang nyaris mengenai kepala Damar. "Pergi! Jangan sentuh aku! Dasar monster!" Suaranya pecah dalam raungan penuh kebencian dan luka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines