We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Wrong Feeling

Wrong Feeling

  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 15, 2015
WpInfo
Fiction
Romance
"Kalian pasti seneng kan kalo perasaan kalian terbalaskan? Bisa langsung pdkt, terus jadian deh. Ah indahnya... Sayangnya kita gak bisa gitu. Iya kan, Rei?" Tanya Aneila kepada seorang pemuda disebelahnya. "Yoi, Nei. Kita beda. Ah bukan. Maksudnya, kisah kita yang beda. Gak seindah kisah cinta kalian. Kadang kita iri sama kalian, yang dengan enaknya berangkat dan pulang sekolah bareng. Nge-date dimalem minggu. Kita boro-boro bisa jalan berdua, ngobrol aja jarang. Sekalinya ngobrol paling banyakan sama yang lain." Ucap Reiner. "Kalian pasti bingung ya sama kisah kita? Kita itu saling sayang. Darimana kita tau itu? Karena dari tatapan mata aja udah beda. Dari detak jantung aja udah kerasa, kalo ada yang lain diantara kita. Tapi kita bisa apa? Cuma bisa diem sampe waktu ngasih kita kesempatan buat bareng. Tapi entah kapan. Kenapa? Karena kita punya alasan. Dan alasan kita itu sama..." Kata Aneila. "Yaitu, karena kita gak mau nyakitin perasaan pasangan kita masing-masing." Ucap keduanya bersamaan. "Ya, walaupun kenyataanya hati kita berdua yang tersakiti." Sambung Reiner. Aneila mengangguk membenarkan. *** Penasaran sama kisah mereka? Let's read!
All Rights Reserved
#116
romace
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • When Two Hearts Collide
  • TWO DIFFERENT PROPERTIES || on going (revisi)
  • Maaf' (Revisi)
  • In Relationship?
  • DeaSea
  • this is me
  • AILAH(END)✅
  • DRABIA [END]
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines