[ Mentari ]
Mereka bilang namaku sangat menggambarkan diriku sendiri. Mentari.
Aku orang yang cerah, mereka bilang. Periang, selalu senyum, yang katanya senyumku ini bisa bikin orang ikutan senyum juga. Kata mereka aku ini orang yang sangat ramah, sangat supel, moodbooster gitu deh pokoknya. Dan semua nyaman berteman denganku.
But of course, gak semua yang orang bilang itu benar.
Aku senyum bukan selalu karena aku senang. Terkadang, aku tersenyum hanya untuk meyakinkan semua orang kalau aku baik-baik aja. Mama bilang, lebih baik sesekali aku nunjukin ke orang-orang kalau aku tuh bisa ngerasain sedih, ataupun marah.
Anehnya, aku bener-bener nggak bisa. Aku takut detik pertama aku nunjukin perasaan aku, detik itu juga semua orang akan kecewa. Kecewa karena Mentari yang selama ini mereka kenal, sebenernya gak kayak gini.
[ Alfi ]
Mentari, Mentari, Mentari.
Gue capek denger nama itu. Satu sekolah ngidolain dia. Ramah, penyabar, suka menolong, selalu tersenyum, dan masih banyak lagi pujian-pujian yang datang dari semua orang terhadapnya.
Gue malah berpendapat sebaliknya. Menurut gue, dia itu fake. Dia penipu. Senyum dia palsu, I’m sure that it’s just a disguise.
Tapi semakin gue berpikiran yang buruk tentang dia, rasa penasaran gue makin memuncak. Sebenernya gimana sih diri dia dibalik senyum manisnya itu? Gue pengen banget tau. Gue harus tau.
Misi pertama: gue harus munculin sesuatu yang lain di wajah dia, selain senyum.
FOLLOW DULU CINTAH
Bagaimana jika seorang remaja transmigrasi ke tubuh seorang duda anak satu?
Yang mana anaknya seumuran dengannya.
Erlan ketua geng yang hobby tauran, suka membully, hingga ia dibunuh oleh salah satu korban bully nya, bukannya ke alam baka, ia malah transmigrasi ke seorang duda anak satu.
Gerlan, duda yang berusia 37 tahun, ia membenci anaknya, hingga anaknya juga
membenci dirinya.
Abian, bocah bebal keras kepala, seperti cerminan jiwa Erlan.
Gerlan waktu seumuran Abian sungguh nakal, hingga karna kenakalannya hadirlah Abian.
Sekarang, Gerlan harus menghadapi anaknya yang lebih parah dari dirinya waktu muda.
Tapi ini Erlan bukan Gerlan. Bocah nakal yang harus merawat bocah bebal.
"Gue... Benaran punya... Anak?"
.
.