Backseat Memories

Backseat Memories

  • WpView
    Reads 265,114
  • WpVote
    Votes 5,713
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jan 28, 2017
Andra termenung melihat mobil itu. Lagi. Mobil dengan nomor polisi B 1509 SB. Andra tidak akan lupa nomor tersebut karena 1509 merupakan tanggal anniversary orangtuanya dan SB merupakan inisial nama mereka berdua. Andra tidak menyangka akan bertemu mobil ini lagi, karena terakhir kali ia melihatnya adalah di showroom mobil bekas saat serah terima penjualan, yang menandakan berakhirnya urusan harta gono-gini paska perceraian orangtuanya.. Martin sudah tiga kali melihat gadis berambut panjang sepinggang itu memperhatikan mobilnya. Ia merasa penasaran, mengapa gadis tersebut tertarik dengan mobilnya yang belum lama ia beli dari showroom mobil bekas. Apakah ia bagian dari komplotan begal yang akhir-akhir ini marak di kotanya? Ia merasa waspada, sekali lagi ia menemukan gadis itu, ia akan menangkapnya basah, jangan sampai mobil yang cicilannya belum lunas tersebut berpindah tangan..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • ANDHARA'S SECRET
  • Clara, Rahasia Seorang Asisten
  • PESONA CINTA CEO (SELESAI)
  • SEXY VENUS [#1 VENUS SERIES]
  • Bittersweet love (END)
  • Taste
  • KILLALFA
  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines