"Kita sama."
Gua heran mendengar lu ngomong itu.
Apa yang sama dari kita? Seinget gua nggak ada.
Tapi begitu kejadian itu menimpa kita berdua, gua sadar dan menyesal nggak bertanya.
Emang benar, Serafina. Kita sama.
Sampe sekarang gua masih bingung, lo itu nyata atau cuma delusi yang muncul dikala senja menjelma menjadi malam gulita. Seandainya lo nyata, tolong beri gua tanda kalo cinta lo itu emang ada, untuk gua, bukan untuk dia.
Entah hanya gua yang ngerasa, atau lo juga pernah ngerasa. Tapi, pernah gak sih lo mikir gimana rasanya di posisi gua? Terjebak didalam zona yang memaksa gua harus ngebohongin perasaan gua sendiri.
"De, gua suka sama lo. Tapi sayangnya lo adik gua. Kenapa sih kita harus adik-kakak an?"