Can I Be Your Friend?

Can I Be Your Friend?

  • WpView
    Odsłon 876
  • WpVote
    Głosy 109
  • WpPart
    Części 8
WpMetadataReadW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja śr., maj 4, 2016
WpInfo
Fikcja
Romans
[On Holding!] Masa lalu itu hanya kenangan yang gak perlu diingat dan gue pengennya kita balik kayak dulu. Bagaimanapun caranya! -Kesya Fyna. Lo gak akan bisa ngerubah masa lalu, apalagi balik kayak dulu. Jadi hubungan kita lebih baik seperti ini. -Afdino Peters. ____ "Two man who is famous for human demons. Because they are hostile, it's not like you think." Copyright© bila&sonia'2k15
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Don't call it love!
  • ADDICTED
  • Choose You - PINDAH KE DREAME
  • TERPAKSA MENIKAH DENGAN BADBOY ( ORINE )
  • Benci Menjadi Cinta
  • Pelupa
  • Terindah

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści