Salahkah mereka yang mencoba berpaling? Ataukah mereka memang sudah dibutakan oleh kenikmatan duniawi? Lenaan yang memikat membuat siapa pun rela meninggalkan Tuhannya meski itu hanya di depan pintu. Ambar telah melakukannya. Dia rela meninggalkan Tuhan di depan pintu dengan dalih untuk mengobati luka hatinya. Lalu, bagaimana Ambar harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu? Saat mencoba menebus kesalahannya, tamparan nasib membuatnya harus menyaksikan anak-anaknya tewas mengenaskan di tangan anak tertuanya.
Mungkinkah ini teguran karena telah meninggalkan Tuhan? Tidak sampai di situ kegetiran hidup yang harus dia rasakan. Anak terakhir Ambar, Kara, kembali mengulang kesalahannya. Saat gadis lugu itu mencoba kembali mengais cinta kasih Tuhan dengan beban turunan yang dia pikul dari orang-orang yang telah meninggalkannya, terpaan badai kehidupan kembali memporakporandaan batinnya. Dapatkah Kara kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki dan menjadi hamba yang taat?