BLINDED (My Arrogant CEO)

BLINDED (My Arrogant CEO)

  • WpView
    LECTURAS 125,452
  • WpVote
    Votos 6,210
  • WpPart
    Partes 9
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, ene 30, 2016
"Surrender to me, kita sama-sama tau apa yang kita mau." Keiran melangkah maju hingga jarak mereka kurang dari sejengkal. "Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan." Andra mati-matian mempertahankan posisinya. Mundur, nanti dikira dia terintimidasi, maju, well, siapa yang bisa menahan diri untuk tidak menyentuh laki-laki ini? Andra menggeleng kuat-kuat. Keiran tersenyum, seakan tau efek yang dia berikan pada wanita keras kepala di depannya. "Tapi aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku ingin kamu." "Keep dreaming, gue nggak mau dipecat gara-gara pacaran sama lo ya, boss gue sendiri." "Atau aku bisa pecat kamu sekarang. Setidaknya kamu tidak akan punya alasan menolakku hanya karena kita rekan kerja di kantor." "Rekan kerja? You're my freaking boss." "Exactly, alasan kenapa wanita-wanita itu suka sama aku." "Gue bukan salah satu wanita-wanita itu." "That's why I want you." (ROUGH DRAFT. YOU'VE BEEN WARNED)
Todos los derechos reservados
#938
metropop
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Jangan Pergi, Ayi
  • Kekasih Terhebat (DIBUKUKAN)
  • (Un) finished Business - END
  • I COFFEE YOU
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • SHIT HAPPENS [RE-PUBLISH]
  • My Sweetest Popcorn
  • A Girl and Three Hearts [COMPLETED]

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido