Labila

Labila

  • WpView
    Reads 6,207
  • WpVote
    Votes 1,638
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 22, 2018
[Pending] Kalau memendam perasaan itu sulit, mengapa tidak kamu katakan saja? Siapa tahu dia punya perasaan yang sama. Kalau hatinya sulit untuk kamu miliki, mengapa tidak pernah kamu lihat sekitarmu? Siapa tahu ada yang menunggu hatimu memilihnya. Kalau sahabatmu mengatakan hal buruk tentang dia, mengapa tidak kamu pikirkan dahulu? Siapa tahu sahabatmu memang benar. Kalau dia tidak pernah bisa melangkah bersamamu, mengapa tidak mundur saja? Siapa tahu seseorang sedang menunggumu di belakang. Jadi, pertimbangkanlah dahulu sebelum kamu memutuskan. Kamu masih punya pilihan, maka pilihlah yang terbaik. Dan Nabila terlalu labil untuk menentukan pilihannya. Kamu mau membantunya? Maka ikutilah ceritanya. copyright©2015 - F.L.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • Rolling In The Deep
  • Shitty Dare✔️
  • Struggled
  • About Is Love
  • Sweet Dreams, Sweetheart! [END]
  • Kelas A [End]
  • HSM 1: OLYMPIADS [END]
  • This Is Friendship [Completed]
  • Never Mine [SLOW UPDATE]

Bagi Alfira, persahabatan adalah ikatan tanpa komitmen. Sedangkan sahabat adalah makhluk Tuhan yang siap mendengarkan keluh kesahmu dan memberi solusi dari masalah kehidupanmu. Tapi keadaan memang tidak pernah bisa diprediksi, apa yang dimiliki juga bisa kapan saja pergi. Ketika sahabatnya pergi, Alfira benar-benar kehilangan arah tanpa arti, butuh adaptasi lagi untuk sembuh dari elegi. "Cuma lo Ra! yang menganggap persahabatan ini bukan apa-apa. Ya cuma lo!" ucap Reza kecewa. Namun, ketika semuanya kembali mampukah Alfira berdamai dengan hati? Butuh waktu yang lama untuk sembuh, butuh keadaan yang seirama untuk menempuh. Tapi, bagaimana jadinya jika aku sudah berhasil berlabuh, dengan mudahnya kau kembali dan karamkan lagi kapalku? "Kalo nggak mau jadi pacar gue oke gue terima lo tolak, tapi kalo gue lamar gimana?" ucap laki-laki yang ada dihadapannya. Lalu apa-apaan kali ini? Dengan berani dan percaya diri tingkat tinggi, dia menawarkan diri menjadi awak kapalku? Yang aku yakin, dia pasti mampu membantuku. Namun, bisakah aku melupakan masa lalu? Dan kembali menempuh perjalanan baru?

More details
WpActionLinkContent Guidelines