PEREMPUAN YANG MENANGIS DALAM TANGIS

PEREMPUAN YANG MENANGIS DALAM TANGIS

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 6, 2015
WpInfo
Poetry
karya:kakek jomblo tampan air mata menjelma lara terkumpul dalam telaga sukma kau terus berlari memburu takdirmu hingga ke ujung teluk yang bisu semakin kencang angin berlayar dalam senandung gelombang semakin riang sedih mencumbu mimpi dalam janji yang tersemai di ladang sepi,.. dan air matamu semakinn deras mengalir hingga bertahun tahun tenggelamkan semua rumah rumah rindu yang telah kau bangun di dalam kalbumu dan kau masih melolong dalam tangis di bulan ke dua ini hingga tenggorakanmu terbakar oleh sunyi di atas tumpukan jerit rindu yang terpendam oleh bisu waktu terus membentangkan gurun gurun yang begitu tandus ketika langkahmu mengejar secuil bait tentang kedamaian namun kau semakin sulit menuruni segala jurang kebahagian itu,.. kini dari segala kerinduanmu tak bisa lagi jarak kau jengkal dengan suaramu dan bulan hanya bisa baitkan sebuah kata yang semakin jauh untuk kau tempuh (PEREMPUAN MASIH MENANGIS)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ANTARA DOA DAN RASA
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • Lemon Tea
  • peluk yang ku rindu
  • Mahligai Sunyi
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Behind the Silence
  • Lembayung

Setelah patah hati yang mengajarkan luka lebih dalam dari sekadar kehilangan, Lili bersumpah tak ingin jatuh lagi. Tapi takdir mempertemukannya dengan lelaki sederhana yang hadir tanpa janji manis tapi penuh makna. lelaki itu berbeda. Bukan hanya caranya mencintai, tapi juga arah doanya. Semakin dekat mereka, semakin jauh kenyataan membawa. Di antara senyuman dan air mata, mereka menyadari: cinta bisa tumbuh di mana saja, tapi tak selalu bisa tinggal. Ini adalah cerita tentang dua hati yang saling menemukan, tapi tak bisa memiliki. Bukan karena tak cinta tapi karena mereka terlalu percaya. Apakah rasa bisa tetap tumbuh meski arah tak sejalan? Atau justru mereka harus memilih, antara cinta yang hangat... atau keyakinan yang tak bisa dikompromi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines