The Coldest Coffee

The Coldest Coffee

  • WpView
    Leituras 2,477
  • WpVote
    Votos 135
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, mai 23, 2016
"Tania! Jelaskan apa yang kamu masak!" "Tania! Berapa banyak gula di dalamnya?!" "Tania! Lihat di depanmu!" "Tania!... Tania!... Tania!" Begitu terus sampai telingaku panas mendengar omelan darinya. Siapa lagi kalau bukan bule jadi-jadian macam dia! Tapi, semakin hari ke hari... "Tania..." "Tania..." "Tania..." Terdengar lebih lembut dari biasanya.
Todos os Direitos Reservados
#328
barista
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Perfect uncle ✓
  • Nikah Muda
  • Ruang Biru [ON GOING]
  • Bukan Stalker [TAMAT]
  • Cerita Tentang Langit Malam
  • Arsyilazka
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • L A R A (Falling and Love) ✔
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo